Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : terdakwa Bupati Sidoarjo non aktif Saiful Ilah saat diadili di Pengadilan Tipikor Surabaya. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Sidang perkara Operasi Tangkap Tangan (OTT) Bupati Sidoarjo non aktif Saiful Ilah terkait dugaan suap sejumlah proyek infrastruktur di Dinas PU BMSDA Kabupaten Sidoarjo kembali digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya pada hari Rabu (1/7/2020).

Di persidangan dengan agenda saksi kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan 5 orang saksi dari Kelompok Kerja (Pokja) Dinas Unit Layanan Pelayanan (ULP) Sidoarjo diantaranya adalah Bayu Setyo Kharisma, Eka, Yugo dan Dedi.

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK beberkan sejumlah rekaman percakapan hasil sadapan KPK.

Tak hanya rekaman suara, jaksa KPK juga membuka transkrip percakapan itu lewat proyektor. Termasuk percakapan yang diduga suara terdakwa Saiful Ilah dengan Judi Tetrahastoto, percakapan Ibnu Gofur dengan Totok Sumedi, Ibnu Gofur dengan Dedi, dan percakapan Ibnu Gofur bersama istrinya.

Namun, pada saat ditayangkan rekaman percakapan dan transkrip, tim Penasehat Hukum (PH) Saiful Ilah sempat protes atau keberatan.

Terdakwa Saiful Ilah melalui penasehat hukumnya keberatan rekaman dan transkrip tersebut dibuka dalam persidang. Dengan alasan bahwa, lima orang saksi yang dihadirkan tidak terkait dengan percakapan-percakapan tersebut.

"Saya keberatan majelis. Apa yang ditampilkan JPU tidak ada kaitannya dengan para saksi," kata, Samsul Huda selaku Penasehat Hukum Saiful Ilah serasah memotong JPU yang mau memutar rekaman itu saat dikutip memojatim dalam persidangan yang diketuai Cokorda Gede Arthana selaku Hakim Ketua serta Lufsiana dan Mochamad Mahin selaku Hakim Anggota.

Tak hanya sekali pihak tim kuasa hukum Saiful Ilah melakukan protes atau keberatan tiap kali JPU hendak memutar rekaman. Pihak terdakwa menilai bahwa jaksa berusaha menggiring permasalahan.

"Saksi tidak mendengar langsung percakapan antara bupati Saiful Ilah dengan Judi Tertrahastoto (PPK) dan sudah ditegaskan saksi bahwa pembicaraan itu tidak di-loudspeaker. Jadi kami keberatan dan mohon dimasukkan catatan,"dalih, Samsul Huda sambil menyela JPU ketika hendak memutar rekaman dan memintai keterangan saksi Yugo.

Atas keberatan tim penasehat hukum terdakwa, majelis hakim berpendapat lain. Mereka setuju dengan upaya jaksa. Menguatkan pernyataan saksi yang sempat mendengar percakapan antara terdakwa Judi Tetrahastoto dengan terdakwa Saiful Ilah.

"Keberatan penasehat hukum sudah kami catat. Silakan dilanjutkan (diputar) percakapannya,"tegas, Hakim Ketua Cokorda Gedhe Artana.

Dalam percakapan antara Saiful Ilah dengan Judi Tetrahastoto tersebut diantaranya, agar membatalkan sanggahan yang diajukan PT Gentayu terkait proyek Candi Prasung Kecamatan Sedati.

Judi menerima telpon di depan Yugo. Dan setelah menerima telpon itu, Judi juga menyampaikan ke Yugo bahwa barusan ada telpon dari Bupati, sekaligus disampaikan arahannya.

"Iya, saya hanya mendengar injih, injih saja. Seperti itu suaranya, tapi saya tidak dengar semua karena tidak di laudspeaker. Lalu Pak Judi menyampaikan ada telepon dari bupati untuk menolak sanggahan itu,"ucap, saksi Yugo dalam persidangan.

Saksi Yugo akhirnya mengakui beberapa hal yang ditanyak JPU, walau sempat berbelit-belit. Sedangkan pada sampai keterangan saksi Bayu Setyo Karisma sempat membuat geram majelis hakim karena terkesan berputar-putar saat ditanyai tentang percakapan antara Saiful Ilah dengan Judi Tetrahastoto, Ibnu Gopur dengan Dedi, dan Ibnu Gopur dengan istrinya terkait permintaan uang dari pokja Candi-Prasung agar tender dimenangkan.

Dedi, salah satu kontraktor yang juga dihadirkan sebagai saksi, terungkap dalam rekaman, ketika Ibnu Gopur menghubunginya terkait adanya sanggahan dari PT Gentayu, Dedi menyarankan untuk ke bupati saja.

Keterangan saksi langsung dipotong jaksa KPK. "Kenapa ke bupati. Hubungannya apa bupati dengan pokja Candi-Prasung," tanya, jaksa.

Dedi pun mengakui bahwa selama ini ia sering mengetahui Ibnu Gopur ke Bupati Sidoarjo nonaktif Saiful Ilah.

Ditemui usai sidang, JPU KPK Arif Suhermanto mengatakan bahwa, saksi Yugo dan Bayu pada 30 Juli 2019 ada pertemuan yang dilatarbelakangi telepon bupati agar dibantu memenangkan Ibnu Gopur dalam tender proyek di Pemkab Sidoarjo.

"Ini menjadi relevan sekali dengan kepentingan bupati yang menelepon tersebut. Fakta, walaupun di pokja ada eveluasi ulang yang terjadi adalah kemenangan tender tetap diberikan kepada Gopur,"tutur, Jaksa KPK Arif Suhermanto.

Disampaikan juga, dalam percakapan Ibnu Gopur dengan istrinya sore hari terkait pokja yang meminta uang Rp 100 juta dan fakta juga ada.

"Titipan Gopur kepada Totok Sumedi diberikan kepada pokja, dan Totok menyampaikan kepada Yugo. Lalu Yugo menyerahkan Bayu dan dibagi semua pada Pokja Candi-Prasung,"paparnya.

Seperti diketahui, masing-masing anggota Pokja Candi-Prasung menerima uang Rp 30 juta. Dan sisanya Rp 10 juta rencanya dipakai makan-makan bersama. Hal itu sudah berulang kali dan diakui oleh para pegawai di ULP Pemkab Sidoarjo.

Dalam kasus ini, Bupati Sidoarjo nonaktif Saiful Ilah dan Kepala Dinas PU BMSDA Sunarti Setyaningsih, Kabid Bina Marga Dinas PU BMSDA Judi Tetrahastoto, serta Kabag ULP Sanadjihitu Sangadji didakwa pasal yang sama berkas terpisah (splising).

Yakni, Pasal 12 huruf b UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dan Pasal 11 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Saiful Ilah disebut menerima Rp 550 juta, Sunarti menerima Rp 227 juta, Judi Tetra menerima Rp 350 juta, dan Sangadji menerima Rp 330 juta dari Ibnu Gofur dan Totok Sumedi. (rief)

Posting Komentar