Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : terdakwa saat diadili diruang Utama PN Sidoarjo. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Sidang agenda pembacaan surat putusan diruang Utama Delta Kartika Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo dipenuhi pengunjung pada hari Senin (9/3).

Sidang atas kasus penyerobotan dan pemalsuan lahan Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) Jawa Timur dengan lima terdakwa yakni, Ceng Liang alias Henry Jocosity Gunawan, Yuli Ekawati, Reny Susetyowardhani, Notari Umi Chalsum, dan Notaris Dyah Ekapsari Nuswantari berkas terpisah (splising).

Disurat putusannya Majelis Hakim menyebutkan, terdakwa Notaris Dyah Ekapsari Nuswantari terbukti secara sah dan meyakikan bersalah telah melakukan membuat akte notaris palsu Surat Pelepasan Hak (SPH) tanah Puskopkar Jatim yang berada di Desa Pranti Kecamatan Sedati Sidoarjo. 

"Sebagai Notaris Dyah Ekapsari Nuswantari telah terbukti membuat akta otentik palsu dan menghukum terdakwa selama 1 tahun 6 bulan,"kata, Hakim Ketua Achmad Peteb Sili didampingi dua Hakim Anggota Dameria F Simanjuntak dan Joedi saat pembacaan putusan dikutip memojatim.

Majelis Hakim Achmad Peten Sili juga menyatakan, terdakwa Notaris Dyah membuat sejumlah surat pelepasan tanah dan akta otentik atas permintaan terdakwa Reny dan Umi Chalsum dengan imbalan setiap surat sebesar Rp 5 juta, hingga total Rp 30 juta.
Surat itu tertulis Desember tahun 2000, padahal sebenarnya dibuat pada Desember tahun 2008.

Sedangkan untuk empat terdakwa yakni, Ceng Liang alias Henry Jocosity Gunawan, Yuli Ekawati, Reny Susetyowardhani, dan Notaris Umi Chalsum oleh Majelis Hakim divonis bebas.

Dalam amar putusan Majelis menilai, unsur-unsur yang didakwakan dalam surat dakwaan alternatif penuntut umum sebagaimana dalam dakwaan ke satu, kedua dan ketiga bahwa terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan tersebut. 

"Mengadili, membebaskan terdakwa dari dakwaan penuntut umum. Memulihkan hak terdakwa,"kata, Hakim Ketua Achmad Peten Sili.

Sebelumnya, seperti yang telah diberikan media ini. Modus kasus dugaan pemalsuan akta otentik tanah, yang semula atas nama badan, dialihkan atau dijual yang mengarah perorangan. Dalam penyidikannya, Bareskrim Mabes Polri mengungkap tanah seluas 25 hektar itu adalah milik Puskopkar Jatim. 

Tanah ini, sebelumnya masih atas nama Iskandar yang dikuasakan Puskopkar Jatim yang menjabat sebagai Ketua Divisi Perumahan Puskopkar Jatim.

Namun sesudah Iskandar meninggal, tanah itu diduga dikuasai atau diakui oleh
Reny Susetyowardhani sebagai anak dari almarhum Iskandar. Seiring waktu berjalan, tanah itu dijual Reny dengan dugaan memalsukan sejumlah dokumen dan dibeli Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan dengan uang muka sekitar Rp 3 miliar.

Setelah memberikan uang muka itu, Henry J Gunawan membangun pergudangan yang diperjualbelikan di atas area seluas 25
Hektar itu. Kenekatan Henry J Gunawan oleh Bareskrim Mabes Polri dianggap telah merugikan Puskopkar Jatim senilai Rp
300 miliar. 

Selanjutnya, Bareskrim Mabes Polri menetapkan kasus dugaan pemalsuan akta otentik itu diduga dilakukan lima terdakwa. Yakni, Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan selaku Direktur Utama (Dirut) PT Gala Bumi Perkasa dan Reny Susetyowardhani (anak H Iskandar almarhum) sekaligus Dirut PT Dian Fortuna Erisindo, Notaris Umi Chalsum,
Notaris Yuli Ekawati dan Notaris Dyah Nuswantari Ekapsari. (rief) 

Posting Komentar