Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : suasana sidang pembacaan nota keberatan diruang sidang Sari Pengadilan Negeri Sidoarjo. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Sidang lanjutan perkara kasus penyerobotan dan pemalsuan akta lahan Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) Jatim kembali digelar diruang Sari Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo pada hari Senin (10/2/2020).

Sidang kali ini agenda mendengarkan pembelaan dari kelima terdakwa yang dibaca secara bergantian. Didalam persidangan saat membacakan  pembelaannya terdakwa Ceng Liang alias Henry Jocosity Gunawan menuding terdakwa lain bersalah dan menyebut bahwa bukan dirinya yang memalsukan akta otentik pelepasan tanah Puskopkar Jatim yang berada di Desa Pranti Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo.

"Saya tidak pernah bertemu dengan terdakwa Reny membicarakan pelepasan tanah di Desa Pranti, karena saat itu saya bukan pengurus PT GBP,"dalih, terdakwa Henry  J Gunawan dikutip memojatim.

Sementara terdakwa Umi Chalsum dan terdakwa Reny Susetyowardhani dalam menyampaikan  pembelaannya menuding bahwa pembuat dan yang bertanggung jawab atas akta pelepasan hak tanah di Desa Pranti adalah terdakwa Dyah Nuswantari Ekaphapsari.

"Saya tidak pernah tahu ada akta palsu, karena saya tidak pernah menyuruh membuatnya,"elak, terdakwa Reny Susetyowardhani dihadapan Majelis Hakim.

Sedangkan terdakwa Dyah Nuswantari Ekahapsari dalam menyampaikan  pembelaannya menyebutkan, bahwa yang mengonsep pembuatan akta notaris yang dibuat tahun mundur tersebut adalah terdakwa Reny Susetyowardhani dan terdakwa Umi Chalsum. Saat dirinya berani menandatngani akta karena adanya kepastian tidak ada masalah hukum di kemudian hari.

"Saya berani tanda tangan akta yang disodorkan oleh terdakwa Reny dan Umi Chalsum karena jaminan tidak ada masalah hukum,"ucap terdakwa Dyah Nuswantari Ekaphapsari.

Pada sidang pembacaan tuntutan sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umun (JPU) Kejaksaan Negeri Sidoarjo menghukum kelima terdakwa bersalah. Menuntut supaya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo yang memeriksa dan mengadili perkara ini, memutuskan menyatakan terdakwa Dyah Nuswantari Eka Hapsari telah terbukti secarah sah dan meyakinkan melakukan pemalsuan akta otentik sebagimana  dakwaan penuntut umum. Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Dyah Nuswantari Eka Hapsari dengan pidana penjara selama lima tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan.

"Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Dyah Nuswantari Eka Hapsari dengan pidana penjara selama lima tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan,"tegas, Jaksa Ridwan.

Sedangkan terdakwa Reny Susetyowardhani selaku Dirut PT Dian Fotuna dituntut pidana penjara 5 tahun 6 bulan, terdakwa Yuli Ekawati dituntut 5 tahun, terdakwa Umi Chulsum dituntut 5 tahun.

Sementara Henry J Gunawan yang mendapat giliran pembacaan tuntutan terakhir dituntut pidana penjara 6 tahun.

"Pasal 266 ayat 1 KUHP, Jo Pasal 65 ayat 1 KUHP, Tindak pidana yang dimaksud itu adalah melakukan beberapa perbuatan harus dipandang sebagai perbuat sejenis sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam pidana pokok menyuruh memalsukan perbuatan sejenis yang seolah-olah sesuai dengan kebenarannya,"pungkas, Hakim Ketua Achmad Peten Sili saat mempertegas bacaan Jaksa.

Sekedar diketahui, modus dalam dugaan kasus pemalsuan akta autentik tanah, yang semula atas nama badan, dialihkan atau dijual yang mengarah pada perorangan. Namun dalam penyidikannya, Bareskrim Mabes Polri mengungkap bahwa tanah seluas 25 hektare itu adalah milik Puskopkar Jatim.

Tanah itu dulunya masih atas nama Iskandar yang dikuasakan oleh Puskopkar Jatim yang menjabat sebagai Ketua Divisi Perumahan.

Namun sesudah Iskandar meninggal, tanah itu diduga dikuasai atau diakui oleh Reny Susetyowardhani anak dari almarhum Iskandar. Seiring waktu berjalan, tanah itu dijual Reny dengan dugaan memalsukan sejumlah dokumen dan dibeli Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan dengan uang muka sekitar Rp 3 miliar.

Setelah memberikan uang muka itu, Henry J Gunawan diduga membangun pergudangan yang diperjualbelikan di atas area seluas 25 hektare tersebut. Kenekatan Henry J Gunawan oleh Bareskrim Mabes Polri dianggap telah merugikan Puskopkar Jatim senilai Rp 300 miliar.

Untuk diketahui, dugaan pemalsuan akta otentik itu dilakukan oleh lima orang tersangka. Yakni Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan selaku Direktur Utama (Dirut) PT Gala Bumi Perkasa dan Reny Susetyowardhani anak dari (H.Iskandar/alm) Dirut PT Dian Fortuna Erisindo, Notaris Umi Chalsum, Notaris Yuli Ekawati, dan Notaris Dyah Nuswantari Ekapsari. (rief)


Posting Komentar