Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : saksi Umi Chalsum (terdakwa) saat menyampaikan keterangan di persidangan. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Sidang perkara penyerobotan dan pemalsuan lahan Puskopkar Jatim memasuki babak baru. Pasalnya, sidang yang menyeret lima orang yakni, Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan selaku Direktur Utama (Dirut) PT Gala Bumi Perkasa dan Reny Susetyowardhani anak dari (H.Iskandar/alm) Dirut PT Dian Fortuna Erisindo, Notaris Umi Chalsum, Notaris Yuli Ekawati, dan Notaris Dyah Nuswantari Ekapsari menjadi terdakwa atas dugaan adanya tindakan pidana penyerobotan dan pemalsuan akta otentik lahan Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) Jawa Timur itu mengagendakan saksi yang terdiri dari terdakwa untuk terdakwa lainnya.  

Sidang digelar diruang Utama Delta Kartika Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo pada hari Senin (13/1/2020) dengan dikutuai Achmad Peten Sili selaku Hakim Ketua.

Dipersidangan terdakwa Umi Chalsum menjadi saksi untuk empat terdakwa lainnya yaitu, Henry Jocosity Gunawan, Reny Susetyowardhani, Yuli Ekawati, dan Dyah Nuswantari Ekapsari.

Dalam kesaksiannya Umi Chalsum berdali bahwa, dirinya dimintai bantuan untuk membuat akte pelepasan tanah di Desa Pranti oleh terdakwa Reny Susetyowardhani karena peta bidang yang dikeluarkan BPN Sidoarjo sudah keluar. 

"Saya disodori petikan akte oleh notaris Suharto dengan penandatanganan akte saya lakukan tahun 2008 selaku notaris pengganti," dalih, saksi Umi Chalsum saat memberikan kesaksian dalam persindangan.

Selain itu Umi Chalsum mengaku, dirinya berani menandatangani karena merasa diyakinkan oleh Notaris Suharto (alm).

"Saya berani tandatangan karena diyakinkan oleh notaris Suharto selaku notaris yang saya gantikan bahwa semua berkas tidak ada masalah,"akuhnya.

Masih kata saksi Umi Chalsum, dirinya bukan pembuat konsep akte pelepasan tanah desa Pranti, melainkan dilakukan sesuai perintah notaris Suharto. 

"Saya hanya tanda tangan saja, karena dijamin aman tidak ada masalah dikemudian hari," ujar, saksi Umi Chalsum dipersidangan.

Sementara pada saat sampai dari kesaksian  terdakwa Yuli Ekawati yang merupakan mantan anak buah terdakwa Henry J Gunawan dan menjabat staf legal PT Gala Bumi Perkasa (GBP) sejak tahun tahun 1997 hingga 2012 menerangkan bahwa, membenarkan PT Gala Bumi Perkasa membeli tanah di desa Pranti dari terdakwa Reny Susetyowardhani selaku Dirut PT Dian Fortuna Erisindo. Bahkan Yuli Ekawati mengakui bahwa dirinya yang menyerahkan giro bilyet pembayaran uang pembelian tanah tersebut.

Dipersidangan juga saksi Yuli ekawati bahwa, giro bilyet pembayaran uang pembelian tanah di Desa Pranti, Kecamatan Sedati ditandatangani oleh Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan selaku Direktur Utama (Dirut) PT Gala Bumi Perkasa.

"itu saya ketahui dari pernyataan pak Raja Sirait,"ungkapnya.

Sekedar diketahui pada sidang keterangan saksi sebelumnya, kepemilikan atas lahan seluas 20 hektar itu diungkapkan dimuka persidangan oleh sejumlah saksi dari Pemerintah Desa (Pemdes) dan pihak Kecamatan atas pelepasan hak tanah di 6 desa yaitu, Desa Peranti, Desa Janti, Brebek, Tropodo, Kepuh Kiriman dan Desa Wadungasri yang dilepas kepada Puskopkar Jatim melalui Iskandar selaku Ketua Devisi Perumahan Puskopkar Jatim pada tahun 1994 silam.

Fakta pelepasan TKD tersebut diungkap oleh para saksi dari pejabat desa dalam sidang yang diketuai oleh Ahmad Peten Sili. Fakta tersebut diungkap bahwa lahan tersebut benar Tanah Kas Desa (TKD) yang sudah dilepas kepada Puskopkar Jatim.

"Arsip dokumen yang pernah saya lihat bahwa TKD itu sudah dilepaskan kepada Puskopkar Jatim," kata Kabid Keuangan dan Aset Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ( PMD) Kabupaten Sidoarjo, M Andik, ketika menjadi saksi, hari Selasa (10/12/2019) lalu.

Mendengar jawaban tersebut, Ketua majelis hakim Ahmad Peten Sili lalu menegaskan apakah Puskopkar Jatim yang bertidak pada saat itu Iskandar, Kepala Devisi Perumahan Puskopkar Jatim.

"Apakah Puskopkar Jatim diwakili Iskandar," tanya hakim. Saksi kembali menyatakan bila pelepasan itu kepada Puskopkar Jatim. "Saya lupa namanya, tapi itu ke Puskopkar Jatim," jelas pria yang menjabat Kabid sejak 2017 lalu itu.

Terkait pelepasan lahan TKD di 6 desa yang terletak di Pranti tersebut, pihaknya juga memiliki arsip dokumen yang tersimpan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten hingga gubernur.

"Dokumen hanya berupa foto copy dari enam desa. Itu (6 desa) dokumennya jadi satu bandel, tidak terpisah-pisah," jelasnya.

Kesaksian dari pihak Dinas PMD Sidoarjo dan sejumlah pejabat desa yang memiliki aset di Pranti, Sedati jelas bahwa lahan TKD yang dilepas tersebut kepada Puskopkar Jatim, bukan kepada PT Dian Fortuna.

Termasuk dari kesaksian Kasubbag Umum Kecamatan Sedati, Restu Arih yang menyatakan bahwa arsip dokumen di kecamatan tersimpan bahwa lahan TKD 6 desa di Pranti sudah dilepas kepada Puskopkar Jatim.

Bukan dilepas ke pihak lain, termasuk PT Gala Bumi Perkasa, meski faktanya lahan 20 hektar tersebut sudah dikuasai PT GBP yang dibeli dari PT Dian Fortuna. Ironisnya, lahan tersebut sudah berdiri bangunan yang diklaim milik PT GBP.

Padahal, bangunan di atas lahan 20 hektar tersebut hingga saat ini masih belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). (rief)

Posting Komentar