Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : terdakwa Edi Purnawan saat diadili di Pengadilan Tipikor Surabaya. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Mantan Kepala Sekolah SDN Banyuanyar 4-5 Sampang, Edi Purnawan harus menjalani proses persidangan atas dugaan Pungutan Liar (Pungli) atau pengepul atas uang fee proyek yang dikucurkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2018. Terdakwa Edi Purnawan memasuki ruang sidang menggunakan baju hem biru dengan menggunakan songkok hitam didampingi Penasehat Hukumnya menjalani proses sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor Surabaya di jalan raya Juanda Surabaya.

Persidangan yang diketuai Dede Suryaman selaku Hakim Ketua digelar diruang Cakra Pengadilan Tipikor Surabaya. Dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang, Anton Zulkarnain menyebutkan bahwa, terdakwa Edi Purnawan secara bersama-sama dengan terdakwa Achmad Rojiun dan Edi Wahyudi (berkas terpisah) telah melakukan perbuatan melawan hukum tindak pidana korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2018-2019 Kabupaten Sampang dengan nilai kerugian keuangan negara sekitar Rp1miliar lebih.

"Sebagaimana perbuatan terdakwa tersebut bersam saksi Achmad Rojiun dan Saksi Edi Wahyudi telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 1.151.203.000. (satu miliar seratus lima puluh satu juta dua ratus tiga ribu rupiah) Mendakwa terdakwa Pasal 2 ayat (1) junto Pasal 3 dan Pasal 12 huruf e junto Pasal 11 Undang-Undang Tipikor,"ucap, Jaksa Anton Zulkarnain dalam persidangan saat membacakan surat dakwaan.

Usai mendengarkan dakwaan, terdakwa Edi Purnawan tidak keberatan atas dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum sehingga sidang berikutnya langsung ke agenda pembuktian.

Usai persidangan saat dikonfirmasi terkait pasal berlapis yang disangkakan terhadap terdakwa Edi Purnawan JPU Kejari Sampang, Anton Zulkarnain menyatakan, kita kenakan Pasal 2 itu mengenai adanya perbuatan melawan hukum, Pasal 3 prihal adanya penyalah gunaan kewenangan, selanjutnya Pasal 12 hutuf e itu mengenai adanya pemerasan serta Pasal 11 adanya dugaan gratifikasi.

"Terdakwa dalam surat dakwaan itu ikut mengambil fee, jadi pemungut fee semasa terdakwa menjabat Kepala Sekolah SDN Banyuanyar 4-5 sejak 2018 sampai 2019. Tapi terdakwa ini mengambilnya fee itu ke Kepala Sekolah lain,"terang, Anton pada memojatim.

Labih jauh masih kata Anton Zulkarnain menyatakan bahwa, fee itu setelah terkumpul oleh terdakwa Edi Purnawan diserahkan ke terdakwa Achmad Rojiun (berkas terpisah) dan selanjutnya dikumpulin lagi. 

Disinggung soal fee yang telah terkumpul di terdakwa Achmad Rojiun tersebut lantas disetorkan ke siapa, Jaksa Penuntut Umum, Anton Zulkarnain menyatakan, "kita lihat nanti dalam fakta persidangan arahnya kemana,"tegas, Anton.

Sekedar diketahui, kasus Pungutan Liar (Pungli) permintaan fee terkait pembangunan RKB SDN Banyuanyar 2 Sampang, Madura, Jawa Timur ini berhasil diungkap oleh penyidik Kejari Sampang melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap terdakwa mantan Kasi Sarpras Dinas Pendidikan Sampang, Achmad Rojiun, staf Edi Wahyudi dan Kepala SDN Banyuanyar 4-5, Edi Purnawan sebagai tersangka.

Saat itu, Edi Purnawan menyerahkan uang sebesar Rp75 juta kepada Achmad Rojiun yang didampingi Edi Wahyudi di Jalan Raya Banyuanyar, uang tersebut diduga merupakan fee yang ditarik dari SDN Banyuanyar 2 Sampang. (rief)

Posting Komentar