Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : lima terdakwa saat persidangan di Pengadilan Negeri Sidoarjo. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) dan Dirut PT Dian Fortuna Erisindo, Reny Susetyowardhani kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo.Bukan hanya terdakwa Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan dan Reny Susetyowardhani yang menjalani persidangan, dua bos dari dua perusahaan itu juga disidangkan dengan tiga terdakwa lainya yakni, tiga notaris Dyah Nuswantari Ekapsari, Yuli Ekawati dan Umi Chalsum pada hari Senin (11/11).

Dalam persidangan lima terdakwa ini melalui Penasehat Hukum (PH) nya kompak melakukan esepsi atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Esepsi atau nota keberatan terdakwa dibacakan secara bergantian oleh masing-masing Penasehat Hukum terdakwa dalam persidangan. Nota keberatan pertama di bacakan oleh PH terdakwa Reny Susetyowardhani Dirut PT Dian Fortuna Erisindo.

"Kami keberatan atas dakwaan penuntut umum karena terdakwa Reny pernah dilaporkan oleh pelapor yang sama dengan obyek perkara yang sama di Polda Jatim, namun kasus tersebut sudah di-SP3 pada tahun 2015 karena bukan merupakan tindak pidana," kata Achmad Budi Santoso selaku Penasehat Hukum terdakwa Reny  ketika menyampaikan eksepsi.

Selain itu, Budi juga menilai bahwa dakwaan penuntut umum tidak jelas, kabur dan kurang cermat karena tanpa menyebut kapan dan dimana lokasi kejadian terdakwa bertemu dengan saksi Umi Chalsum dan saksi Dyah Nuswantari.

"Bahkan, dalam surat dakwaan penuntut umum masih menyebut terdakwa sebagai Dirut PT Dian Fortuna Erisindo, padahal sejak Februari 2016 terdakwa sudah tidak menjabat sesuai akta Notaris dan Kemenkumham tentang perubahan AD ART perusahaan tersebut," terang, Budi.

Sementara dalam esepsi terdakwa Dyah Nuswantari juga menyampaikan hal yang sama, yaitu menilai surat dakwaan penuntut umum tidak cermat, kabur dan tidak jelas sebagaimana pasal 143 KUHP.

Sedangkan, giliran Henry J Gunawan terdapat fakta menarik ketika pengacara senior Hotman Sitompul yang hadir membacakan eksepsi tersebut. Bahkan, Hotman meminta kepada majelis hakim agar terdakwa Yuli Ekawati dijadikan duduk satu bangku dengan Henry karena eksepsinya hampir sama namun beda orang.

Usai mendapat persetujuan Ketua Majelis Hakim Ahmad Peten Sili, Henry J Gunawan dan Yuli Ekawati duduk bersama.

Namun, ada fakta yang menarik dalam persidangan. Sebelum tiga penasehat hukum terdakwa Henry J Gunawan yang mendampingi diruang sidang membacakan esepsinya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sidoarjo mempertanyakan legalitasnya.

"Mohon izin majelis hakim, kami keberatan bila eksepsi dibacakan sebelum legalitas ditunjukkan kepada majelis. Karena pada sidang kemarin hanya ada dua penasihat hukum, sedangkan tiga kuasa hukum lainnya hadir saat ini," tegas, Ridwan Dermawan, JPU Kejari Sidoarjo dalam persidangan saat dikutip memojatim.

Permintaan itu akhirnya dikabulkan oleh Ketua Majelis Hakim Ahmad Peten Sili. "Baik, silakan tiga penasihat hukum menunjukkan kepada kami," pintanya kepada tiga penasihat hukum, di antaranya pengacara senior Hotman Sitompul.

Pengecara kondang Hotman Sitompul atas permintaan Jaksa tersebut sempat terlihat tersinggung , apalagi Hotma Sitompul sudah memakai atribut lengkap penasihat hukum.

Eksepsi yang dibacakan tim penasihat hukum Hotma Sitompul hampir menelan waktu 1,5 jam, bergantian membacakan nota keberatan atas dakwaan penuntut umum yang dinilai tidak cermat, jelas dan lengkap. Sesekali eksepsi mengutip pendapat pakar hukum dunia.

Tim penasihat hukum terdawa Umi Chalsum yang mengajukan eksepsi juga mengurai terkait dakwaan penuntut umum yang tidak cermat, jelas dan kabur.

Meski demikian, atas tanggapan eksepsi para terdakwa itu, tim penuntut umum menanggapi dengan santai.

"Izin majelis hakim kami meminta waktu sidang pekan depan untuk menanggapi eksepsi tersebut," tutur, Jaksa Penuntut Umum Kejari Sidoarjo Ridwan Dermawan dengan Andik Susanto.

Sebelumnya, lima terdakwa dalam perkara penyerobotan dan pemalsuan akta otentik lahan Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) Jawa Timur tersebut, Jaksa Penuntut Umum mendakwa lima terdakwa dengan pasal berlapis dengan berkas terpisah (splitsing).

Pertama untuk terdakwa Dirut PT Dian Fortuna Erisindo, Reny Susetyowardhani didakwa pasal 264 ayat 2 KUHP dan atau dan atau pasal 266 ayat 1 KUHP, Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Terdakwa Dyah Nuswantari didakwa pasal 264 ayat 1 ke 1 KUHP, Jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Dakwaan kemudian dianjut ke Henry J Gunawan.

Sementara Bos PT GBP itu didakwa melanggar pasal 264 ayat 2 KUHP, jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dan atau pasal 266 ayat 1 KUHP dan atau pasal 385 KUHP, Jo pasal 65 ayat 1 KUHP.

Sedangkan terdakwa Yuli Ekawati didakwa pasal 264 ayat 2 KUHP dan atau pasal 264 ayat 1 ke 1 KUHP, Jo pasal 65 ayat 1 KUHP dan Umi Chulsum didakwa pasal 264 ayat 2 KUHP dan atau pasal 264 ayat 1 ke 1 KUHP, Jo pasal 55 ayay 1 ke 1 KUHP.

Kelimanya terdakwa ada keterkaitan satu sama lain dalam melakukan tindak pidana penyerobotan lahan 23 hektare yang merugikan PT Puskopkar Jatim senilai Rp 300 miliar tersebut yang dilakukan sejak 2008 hingga 2015 itu. (rief)

Posting Komentar