Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : empat terdakwa saat menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Surabaya. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perbuatan melawan hukum tindak pidana korupsi sebagaimana diatur pada Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) dan ayat (3) UU No.31 tahun 1999 yang telah dirubah dan ditambah dengan UU No.20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sampang, Moch Hasan saat membacakan surat tuntutan dalam persidangan di ruang Candra Pengadilan Tipikor Surabaya hari Selasa (12/11) di jalan raya Juanda Sidoarjo.

Empat terdakwa duduk berjejer dikursi Pengadilan Tipikor Surabaya antara lain, terdakwa Mastur Kiranda, Noriman, Didi Riyadi dan Sofiyan nampak serius mendengarkan tuntutan yang dibacakan oleh penuntut umum dengan didampingi oleh Penasehat Hukum (PH) nya, Lusi.

Mengajukan tuntutan kepada Majelis Hakim sebagai yang memeriksa dan memutuskan dalam perkara ini, menuntut empat terdakwa dengan hukuman pidanan masing-masing 1 tahun 6 bulan dendan Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan.

"Khusus untuk terdakwa Mastur Kiranda diwajibkan mengembalikan uang kerigaan negara sebesar Rp 132 juta,"ucap, Jaksa Penuntut Umum Moch Hasan dalam persidangan saat dikutip memojatim hari Selasa (12/11).

Dalam persidangan yang diketuai Hisbullah Idris itu, jaksa juga menyebutkan, barang bukti yang berhasil diamankan berupa, tas, Anjungan Tunai Mandiri (ATM), uang tunai sebesar (dua juta lima ratus ribu rupiah) dijadikan barang bukti.

"Barang bukti berupa, tas, Anjungan Tunai Mandiri (ATM), uang tunai sebesar (dua juta lima ratus ribu rupiah) dijadikan barang bukti gelar perkara atas naman Ahcmad Rojiun,"jelas, JPU Moch Hasan.

Ditemui usai persidangan JPU Moch Hasan menyatakan, masing-masing terdakwa dituntut sama dalam perkara ini, cuman bedanya khusus pada terdakwa Mastur Kiranda itu ada uang pengganti sebesar Rp 132, 300 (seratus tiga puluh dua tiga ratus).

"Khusus Mastur Kiranda itu uang penggati (seratus tiga puluh dua tiga ratus), dan sudah dibayar,"terang, Moch Hasan.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, dalam perkara korupsi  proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) SMP Negeri 2 Ketapang, Sampang, Madura dengan nilai total anggaran Rp134 juta ini, bermula ketika CV Amor Palapa milik terdakwa Abd  Aziz dipinjam oleh Mastur Kiranda untuk kepentingan yang berkaitan dengan legitimasi memperoleh dan menjadi pelaksana proyek.

Selanjutnya Direktur CV Amor Palapa Abd Aziz diberi uang senilai Rp2,5 juta karena telah meminjamkan CV-nya, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan di wilayah itu. Berikutnya, Mastur Kiranda berhasil menjadi pelaksana proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) di SMPN 2 Ketapang berkat pinjam nama CV milik terdakwa.

Namun, dalam perkembangannya,  Mastur Kiranda tidak mengerjakan sendiri proyek tersebut melainkan masih disubkontrakkan kepada kontraktor lainnya yakni, Noriman.

Selanjutnya, Mastur Kiranda tidak menyerahkan biaya proyek RKB SMP Negeri 2 Ketapang, Sampang itu, sepenuhnya, yakni Rp134 juta kepada Noriman. Ia hanya menyerahkan uang Rp75 juta. Lantas, Noriman mengerjakan proyek RKB SMP Negeri 2 Ketapang itu, sesuai dengan anggaran yang diterimanya. Hasilnya, gedung RKB tersebut ambruk tak lama setelah dinyatakan tuntas dan selesai pembangunannya. (rief)

Posting Komentar