Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono duduk dikursi pesakitan Pengadilan Tipikor Surabaya. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Pengadilan Tipikor Surabaya di jalan raya Juanda Sidoarjo mengabulkan permohonan pengalihan penahanan terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono menjadi tahanan kota. Dikabulkannya permohonan terdakwa oleh Majelis Hakim berdasarkan keterangan medis dari Rumah Sakit Bhayangkara tertanggal 31 Oktober 2019, yang menerangkan bahwa Bos media harian Surabaya Sore terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono menderita sakit komplikasi yakni, jantung, diabetes militus dan TBC.

"Bahwa terdakwa memerlukan perawatan yang intensif. Oleh karenanya majelis mengabulkan pengalihan penahanan terdakwa dari tahanan negara menjadi tahanan kota," ucap, I Wayan Sosiawan selaku Hakim Ketua saat membacakan putusannya di ruang Cakra, Pengadilan Tipikor Surabaya hari Jumat (15/11) dikutip memojatim.

Masih lanjut Hakim Ketua I Wayan Sosiawan, selain pertimbangan medis, penetapan permohonan pengalihan penahanan juga karena ada jaminan dari keluarga. Selanjutnya Majelis Hakim memerintah JPU untuk segera menjalankan penetapan tersebut

"Demikian penetapan ini dibacakan dan memerintahkan penuntut umum untuk segera melaksanakan penetapan," tegasnya.

Dengan demikian usai penetapan permohonan pengalihan penahanan itu, maka secara otomatis status tahanan terdakwa dari tahanan Rutan Trenggalek akan beralih menjadi tahanan kota.
Untuk selanjutnya terdakwa dalam kasus korupsi Rp 7,3 miliar tersebut akan menjalani perawatan intensif.

Penetapan pengalihan penahanan terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono dibacakan setelah Majelis Hakim menolak eksepsi yang diajukan oleh tim Penasihat Hukum (PH) terdakwa.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya. Dalam surat dakwaan yang dibacakan secara bergantian oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Trenggalek, Dody Novalita, Hadi Sucipto dan Feza Reza menyebutkan bahwa, kasus korupsi yang menyeret terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono bermula saat menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Bangkit Grafika Sejahtera (BGS).

Saat menjabat itu, terdakwa Tatang Istiawan diketahui mengajukan kerjasama pengadaan mesin percetakan Heindelberg Speed Master 102 V tahun 1994 seharga Rp 7,3 miliar yang bersumber dari dana penyertaan modal PD Aneka Usaha sebesar Rp 10,8 miliar. Namun, mesin percetakan yang dibeli oleh terdakwa Tatang dari UD Kencana Sari bukanlah mesin percetakan baru, melainkan rekondisi atau dalam keadaan rusak.

"Mesin yang dibeli dalam kondisi rusak parah, sering trouble, hasil cetakan tidak presisi, banyak sensor yang mati dan tidak berfungsi, kondisi spare part sudah tambal sulam," ucap, Jaksa Dody Novalita saat membacakan surat dakwaan.

Masih lanjut Jaksa, terdakwa Tatang Istiawan juga diketahui tidak menyetorkan modal awal ke perusahaan sebesar Rp 1,7 miliar sebagaimana tertuang dalam perjanjian antara PT BGS dengan Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU).

"Faktanya, terdakwa Tatang Istiawan tidak pernah menyetorkan modalnya dan ini bertentangan dengan Pasal 33 UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perusahaan Terbatas," ungkap, Jaksa Dody Novalita.

Akibatnya lanjut Jaksa, atas perbuatannya tersebut, terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono didakwa telah melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.

"Dalam dakwaan primer, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 KUHP, jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, jo Pasal 64 ayat (1) KUHP," jelas, JPU Kejari Trenggalek, Dody Novalita.

Sementara usai mendengarkan dakwaan, terdakwa Tatang Istiawan melalui Penasehat Hukumnnya akan  mengajukan esepsi pada sidang berikutnya pada Kamis (7/11) mendatang. 

Sekedar diketahui, pada saat sidang berlangsung berjalan dramatis Hakim, Jaksa, Penasehat Hukum dan terdakwa menggunakan masker (penutup hidung) karena terdakwa sedang sakit Tuberculosis atau TBC.

"Karena beliau (terdakwa Tatang Istiawan) sakit TBC, kita kasih masker untuk mengantisipasi,"pungkas, Dody Novalita usai persidangan. (rief)

Posting Komentar