Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono dalam persidangan. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Dugaan tindak pidana korupsi penyertaan modal di Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Kabupaten Trenggalek Jawa Timur, menyeret Tatang Istiawan Witjaksono duduk dikursi pesakitan di Pengadilan Tipikor Surabaya di jalan raya Juanda Sidoarjo.

Terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono menjalani persidangan pertamanya atas kasus korupsi penyertaan modal percetakan milik PDAU Pemkab Trenggalek PT Bangkit Grafika  Sejahtera (BGS) tahun 2007 sebesar Rp 7,3 miliar.

Agenda sidang dakwaan, terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono memasuki ruang sidang Cakra Pengadilan Tipikor menggunakan baju hem warna putih berlengan panjang dengan di dampingi tim Penasehat Hukum (PH) nya yakni, Adil Pranajaya, Syamroni dan Radit.

Sebelum sidang dimulai, Ketua Majelis Hakim I Wayan Sosiawan menanyakan kesiapan dan kesehatan pada terdakwa. Selanjutnya, dijawab oleh terdakwa bahwa dirinya dalam kondisi sehat dan siap menjalani persidangan, lantas Hakim Ketua mempersilahkan JPU untuk membacakan surat dakwaannya.

"Silahkan Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaannya,"tegas, Hakim Ketua I Wayan Sosiawan saat dikutip memojatim hari Jumat (1/11).

Dalam surat dakwaan yang dibacakan secara bergantian oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Trenggalek, Dody Novalita, Hadi Sucipto dan Feza Reza menyebut bahwa, kasus korupsi yang menyeret terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono bermula saat menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Bangkit Grafika Sejahtera (BGS).

Saat menjabat itu, terdakwa Tatang Istiawan diketahui mengajukan kerjasama pengadaan mesin percetakan Heindelberg Speed Master 102 V tahun 1994 seharga Rp 7,3 miliar yang bersumber dari dana penyertaan modal PD Aneka Usaha sebesar Rp 10,8 miliar. Namun, mesin percetakan yang dibeli oleh terdakwa Tatang dari UD Kencana Sari bukanlah mesin percetakan baru, melainkan rekondisi atau dalam keadaan rusak.

"Mesin yang dibeli dalam kondisi rusak parah, sering trouble, hasil cetakan tidak presisi, banyak sensor yang mati dan tidak berfungsi, kondisi spare part sudah tambal sulam," ucap, Jaksa Dody Novalita saat membacakan surat dakwaan.

Masih lanjut Jaksa, terdakwa Tatang Istiawan juga diketahui tidak menyetorkan modal awal ke perusahaan sebesar Rp 1,7 miliar sebagaimana tertuang dalam perjanjian antara PT BGS dengan Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU).

"Faktanya, terdakwa Tatang Istiawan tidak pernah menyetorkan modalnya dan ini bertentangan dengan Pasal 33 UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perusahaan Terbatas," ungkap, Jaksa Dody Novalita.

Akibatnya lanjut Jaksa, atas perbuatannya tersebut, terdakwa Tatang Istiawan Witjaksono didakwa telah melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.

"Dalam dakwaan primer, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 KUHP, jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, jo Pasal 64 ayat (1) KUHP," jelas, JPU Kejari Trenggalek, Dody Novalita.

Sementara usai mendengarkan dakwaan, terdakwa Tatang Istiawan melalui Penasehat Hukumnnya akan  mengajukan esepsi pada sidang berikutnya pada Kamis (7/11) mendatang. 

Sekedar diketahui, pada saat sidang berlangsung berjalan dramatis Hakim, Jaksa, Penasehat Hukum dan terdakwa menggunakan masker (penutup hidung) karena terdakwa sedang sakit Tuberculosis atau TBC.

"Karena beliau (terdakwa Tatang Istiawan) sakit TBC, kita kasih masker untuk mengantisipasi,"pungkas, Dody Novalita usai persidangan. (rief)

Posting Komentar