Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : dua terdakwa Sugito dan Darnawan saat mengikuti persidangan. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Sidang putusan sela dalam pokok perkara korupsi dana Jaringan Inspirasi Masyarakat (Jasmas) Pemerintah Kota Surabaya anggaran tahun 2016 Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Surabaya menolak eksepsi yang diajukan dua terdakwa Sugito dan Darmawan (Aden) pada persidangan hari Selasa (26/11).

Sidang yang di Ketuai Hisbullah Idris selaku Hakim Ketua itu akhirnya menolak eksepsi yang diajukan terdakwa. Dalam pertimbangannya Majelis bahwa eksepsi yang diajukan kedua terdakwa melalui tim penasihat hukumnya tersebut sudah masuk ke pokok materi perkara.

"Dakwaan jaksa lengkap, jelas, dan cermat. Untuk keberatan yang diajukan terdakwa tidak beralasan dan tidak diterima seluruhnya karena masuk materi perkara," tutur, Hakim Ketua Hisbullah Idris dalam persidangan.

Untuk itu, Hisbullah meminta jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejari Tanjung Perak untuk melanjutkan ke pembuktian.

"Silakan jaksa ke pembuktian. Apakah sudah siap untuk saksi-saksinya," tanyak, Hakim Ketua Hisbullah Idris saat dikuti memojatim.

Mendapat pertanyaan itu, Jaksa Penuntut Umum M. Fadhil menyatakan, sudah mempersiapkan beberapa saksi-saksi yang berhubungan dengan perkara korupsi ini.

"Kalau saksi kami sudah siap. Kebetulan hari ini untuk saksi terdakwa Binti Rochmah," terang, M. Fadhil.

Sementara penasihat kedua terdakwa belum meminta waktu seminggu karena belum mempersiapkan berkas.

"Kami menghormati keputusan majelis hakim. Tapi soal penolakan eksepsi, kami tetap ajukan di pembelaan nanti," kata, Hasonangan Hutabarat, penasihat hukum terdakwa Darmawan.

Sedangkan Alvin Zain Khadafi, penasihat hukum terdakwa Sugito mengatakan bahwa untuk agenda hari ini adalah putusan sela.

"Karena hari ini agendanya putusan sela, kami minta pembuktian minggu depan. Tapi kami menghormati putusan majelis hakim," pungkas Alvin.

Seperti diketahui dalam kasus ini, Kejari Tanjung Perak telah menuntaskan perkara dugaan korupsi dana hibah Pemkot Surabaya untuk program Jasmas.

Total sudah ada tujuh orang yang dapat diringkus penyidik Pidsus Kejari Tanjung Perak.

Satu orang merupakan pihak swasta sebagai pelaksana proyek yaitu Agus Setiawan Tjong yang sudah divonis dan saat ini sedang mengajukan banding.

Sedangkan enam lainnya terdiri dari anggota DPRD Surabaya Ratih Retnowati serta lima mantan anggota DPRD Surabaya periode 2014-2019 yakni Sugito, Syaiful Aidy, Dini Rijanti Darmawan dan Binti Rochma.

Saat ini Darmawan, Sugito dan Binti Rochma berstatus terdakwa yang sedang menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya.

Sedangkan tiga lainnya yakni Syaiful Aidy, Dini Rijanti dan Ratih Retnowati masih berstatus tersangka dan meringkuk di cabang rutan klas I Surabaya pada Kejati Jatim.

Agus Setiawan Tjong merupakan pelaksana proyek pengadaan terop, kursi, meja, dan sound system pada 230 RT di Surabaya.

Dari hasil audit BPK, Proyek pengadaan program Jasmas tersebut bersumber dari APBD Pemkot Surabaya, tahun 2016 dan merugi hingga Rp 5 miliar akibat adanya selisih angka satuan barang yang dimainkan oleh Agus Setiawan Tjong.

Program Jasmas ini merupakan produk dari sejumlah oknum DPRD kota Surabaya yang telah diperiksa penyidik. Tanpa peran ke enam sang legislator itu, program Jasmas dalam bentuk pengadaan ini tidak akan terjadi. (rief)

Posting Komentar