Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : terdakwa Parnianto saat diadili di Pengadilan Tipikor Surabaya. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Terdakwa Parnianto selaku pengurus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Rukun Agawe Santoso kembali disidangkan terkait perkara korupsi bantuan dana bergulir dari Kementrian Koperasi dan UKM tahun 2006 sebesar Rp 920 juta. Sidang kali ini beragendakan pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipiokor Surabaya jalan Juanda Sidoarjo. Dalam persidangan, semua perbuatan terdakwa yang disangkakan oleh Jaksa Penuntut Umum tidak ada yang dibantah.

Didalam pemeriksaan Jaksa Penuntut Umum menanyakan jabatan terdakwa dan peruntukan uang ratusan juta yang telah diterimanya, padahal terdakwa bukan karyawan Koperasi Simpan Pinjam Rukun Agawe Santoso . Dihadapan Majelis yang diketuai I Wayan Sosiawan selaku Hakim Ketua, terdakwa Parnianto mengaku, bahwa dirinya adalah penasehat koperasi.

"Ketika saudara mendapatkan bantuan itu. Apakah saudara tahu uang itu berupa pinjaman atau bantuan yang harus dikembalikan lagi,"tanya, Jaksa Penuntut Umum, Cakra dan dijawab, pinjaman oleh terdakwa, dalam persidangan hari Jumat (15/11) diruang Cakra Pengadilan Tipikor Surabaya saat dikutip memojatim.

Selanjutnya, Jaksa menanyakan kalau pinjaman kapan harus dikembalikan, apakah 5 tahun atau 10 tahun? tanyak Jaksa. Terdakwa menjawab, belum. Padahal terdakwa menerima uang pinjaman tersebut tercatat pada tahun 2006 itu berarti di tahun 2016 uang harus sudah dikembalikan.

Dalam persidangan Jaksa juga mengungkapkan, sejumlah pencairan uang ratusan juta oleh terdakwa Parnianto yang pertama pencairan uang Rp161 juta yang digunakan untuk hutan KSP Rukun Agawe Santoso, penarikan kedua terdakwa memerintahkan Mujiono untuk mencairkan uang sebesar Rp 180 juta, pencairan ketiga Rp 250 juta yang juga diterima terdakwa Parnianto.

Namun, diujung pertanyaan terdakwa mengaku tidak ingat berapakali menerima pencairan kredit tersebut, dan terdakwa juga menyatakan mempunyai niat mengembalikan uang KSP yang diterimanya.

"Saya niat mengembalikan. Ada aset tapi aset tersebut masih disewa pabrik,"ujar, terdakwa Parnianto.

Selain itu dipersidangan terdakwa juga mengaku pernah, menjalani hukum dengan kasus Pidana Umum.

Perlu diketahui, korupsi dana bantuan bergulir dari Kementrian Koperasi dan UKM itu berawal pada tahun 2006 terdakwa Siswanto selaku Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sumber Rejeki yang beralamatkan di Desa Puhti Kecamatan Karangjati dan terdakwa Parnianto sebagai pengurus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Rukun Agawe Santoso yang berada di Desa Beran Kota Ngawi itu menerima bantuan dana bergulir dari Kementrian Koperasi dan UKM senilai Rp 920 juta.

Dari hasil penyidikan tim Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Ngawi, diketahui bahwa KSP Rukun Agawe Santoso telah menerima bantuan dana sebesar Rp 500 juta namun telah tutup. Sedangkan, KSP Sumber Rejeki menerima bantuan dana bergulir sebesar Rp 420 juta masih tetap beroprasi.

Dari itu diduga kuat kedua terdakwa Siswanto dan Parnianto tidak menyalurkan dana tersebut kepada para nasabahnya. Melainkan digunakan untuk kepentingan pribadi dan sebagian uang yang disalurkan namun tidak sesuai dengan nilai sebenarnya. Sehinggah menimbulkan kerugian keuangan negara Rp 920 juta. (rief)


Posting Komentar