Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : Terdakwa Ketua Koperasi Sumber Rejeki, Siswanto saat diadili. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Sidang korupsi bantuan dana bergulir Koperasi Simpan Pijam (KSP) Sumber Rejeki Kabupaten Ngawi yang menyeret terdakwa Ketua Koperasi Sumber Rejeki, Siswanto disidangkan di Pengadilan Tipikor Surabaya pada hari Kamis (7/11). Siswanto diadili karena dinilai telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan cara ngemplang bantuan dana bergulir dari Kementrian Koperasi dan UKM tahun 2006 sebesar Rp 920 juta.

Dalam persidangan dengan agenda saksi tersebut pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngawi, Farid dan Cakra menghadirkan saksi ahli auditor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) JawaTimur, Melly mengungkapkan, bahwa terdakwa tidak pernah membuat buku laporan keuangan koperasi. Salain itu ahli juga menerangkan, bahwa usulan pengajuan proposal permohonan bantuan dana bergulir ke Kementrian Koperasi dan UKM itu atas inisiatif terdakwa yaitu Ketua KSP Sumber Rejeki, Siswanto dan pengurus KSP Rukun Agawe Santosa, Parnianto berkas terpisah.

"Daftar 65 orang yang diusulkan oleh terdakwa untuk mendapatkan bantuan, tapi faktanya tidak mendapatkan bantuan,"ucap, saksi ahli Melly dalam persidangan hari Kamis (7/11) diruang Cakra Pengadilan Tipikor Surabaya.

Usai keterangan ahli, Hakim Ketua Dede Suryaman mempertanyakan pada terdakwa Siswanto bahwa, tahu dari mana kalau ada bantuan dana bergulir dari Kementrian Koperasi dan UMK.

"Saudara terdakwa tahu dari mana kalau Kementrian itu menyidiakan dana bantuan,"tanyak, Hakim Ketua Dede Suryaman pada terdakwa, dan terdakwa menjawab, itu saya tahu dari Dinas Koperasi yang mulia.

Selanjutnya, Majelis Hakim Ketua juga menanyakan tentang proses permohonan proposal yang diajukan tersebut ke Kementrian itu pada terdakwa.

"Apakah saudara didalam menyampaikan proposal yang ditujukan ke Kementrian itu fia atau melalui Dinas Koperasi Ngawi,"tanyak, Dede Suryaman selaku Hakim Ketua pada terdakwa Siswanto dan dijawab, iya.

Sekedar diketahui, korupsi dana bantuan bergulir dari Kementrian Koperasi dan UKM itu berawal pada tahun 2006 terdakwa Siswanto selaku Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sumber Rejeki yang beralamatkan di Desa Puhti Kecamatan Karangjati dan terdakwa Parnianto sebagai pengurus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Rukun Agawe Santoso yang berada di Desa Beran Kota Ngawi itu menerima bantuan dana bergulir dari Kementrian Koperasi dan UKM senilai Rp 920 juta.

Dari hasil penyidikan tim Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Ngawi, diketahui bahwa KSP Rukun Agawe Santoso telah menerima bantuan dana sebesar Rp 500 juta namun telah tutup. Sedangkan, KSP Sumber Rejeki menerima bantuan dana bergulir sebesar Rp 420 juta masih tetap beroprasi.

Dari itu diduga kuat kedua terdakwa Siswanto dan Parnianto tidak menyalurkan dana tersebut kepada para nasabahnya. Melainkan digunakan untuk kepentingan pribadi dan sebagian uang yang disalurkan namun tidak sesuai dengan nilai sebenarnya. Sehinggah menimbulkan kerugian keuangan negara Rp 920 juta. (rief)

Posting Komentar