Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : doc Henry J Gunawan dan Luneke Anggraini. (Arief,memojatim)

Surabaya-Memo. Sidang atas perkara 
pemalsuan keterangan pernikahan ke akta otentik yang dilaporkan oleh PT Graha Nandi Sampoerna (GNS) menyeret Dirut PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan dan istrinya Luneke Anggraini harus duduk dikursi pesakitan Pengadilan Negeri Surabaya sebagai terdakwa.

Sidang dengan agenda pembacaan putusan sela itu digelar diruang Garuda Pengadilan Negeri Surabaya pada hari Selasa (15/10). Dalam persidangan, Hakim Ketua Dwi Purwadi menolak semua dalil-dalil eksepsi kedua terdakwa.

"Mengadili, menyatakan keberatan penasehat hukum para terdakwa tidak dapat diterima dan memerintahkan Jaksa Penuntut Umum melanjutkan pemeriksaan perkara nomor 2656/Pid.B/2019/PN.Surabaya atas nama para terdakwa tersebut diatas dan menangguhkan biaya perkara sampai dengan putusan akhir,"tegas, Hakim Ketua Dwi Purwadi saat membacakan amar putusan selanya dikutip memojatim hari Selasa (15/10).

Dalam amar putusan selanya, hakim tidak sependapat dengan dalil tim penasehat hukum para terdakwa yang menyebut surat dakwaan cacat prosedur. Hakim menilai, keberatan tersebut bukanlah kewenangannya untuk menilai, melainkan menjadi kewenangan internal kejaksaan.

"Maka seharusnya diajukan di forum pengawasan internal kejaksaan sendiri,"ucap, Hakim Ketua Dwi Purwadi.

Masih kata Dwi Purwadi, terkait keberatan tim penasehat hukum adanya error in prosedur penyidikan. Hakim menilai, hendaknya diajukan melalui forum praperadilan dan tidak dapat dijadikan alasan majelis hakim untuk menolak surat dakwaan penuntut umum.

"Sedangkan pemeriksaan pada perkara ini adalah untuk memeriksa apakah para terdakwa terbukti melakukan tindak pidana yang didakwakan,"ungkap, Dwi Purwadi saat membacakan pertimbangan hukumnya.

Tak hanya itu, majelis hakim juga menolak keberatan tim penasehat hukum yang menyoal surat dakwaan batal demi hukum karena disusun secara tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap karena tidak memuat waktu dan tempat kejadian tindak pidana para terdakwa.

"Majelis berpendapat surat dakwaan sudah menyebut waktu dan tempat kejadian perkara serta sudah memuat uraian yang seksama, teliti, terang dan lengkap tentang tindak pidana yang didakwakan. Dengan uraian bagaimana para terdakwa melakukan tindak pidana dan keadaaan keadaan yang melekat sebagaimana yang dilakukan para terdakwa," tegasnya.

Ditemui usai persidangan, Masbuhin selaku ketua tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa Henry dan Iuneke Anggraini mengaku akan siap menghadapi persidangan pembuktian perkara ini.

"Pertimbangan putusan tadi akan kami gali lebih dalam lagi saat persidangan pokok perkara. Untuk efisiensi waktu, Maka saya lebih cenderung untuk menghadapi persidangan dalam persidangan pemeriksaan pokok perkara," cetusnya.

Persidangan pembuktian kasus ini kembali digelar pada Selasa, 5 November 2019 mendatang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso.

Sebelumnya, dalam kasus ini Henry dan Iuneke didakwa melanggar Pasal 266 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

Henry dan istrinya diadili setelah diketahui memberikan keterangan palsu ke dalam 2 akta otentik yakni perjanjian pengakuan hutang dan personal guarantee antara PT Graha Nandi Sampoerna sebagai pemberi hutang dan Henry Jocosity Gunawan sebagai penerima hutang sebesar Rp 17.325.000.000 (Tujuh Belas Miliar, Tiga Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah) di hadapan notaris Atika Ashiblie SH di Surabaya pada tanggal 6 juli 2010 dihadiri juga oleh Iuneke Anggraini.

Dalam kedua akte tersebut Henry Jocosity Gunawan menyatakan mendapat persetujuan dari istrinya yang bernama Iuneke Anggraini, keduanya sebagai suami istri menjamin akan membayar hutang tersebut, bahkan Iuneke pun ikut bertanda tangan di hadapan notaris saat itu. Dalam prosenya terungkap bahwa peekawinan antara Henry J Gunawa dengan Luneke Anggraini baru menikah pada tanggal 8 November 2011 dan dilangsungkan di Vihara Buddhayana Surabaya dan dicatat di Dispenduk Capil pada 9 November 2011. (rief)

Posting Komentar