Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Pelaku Penyelundupan 113 Ribu Baby Lobster Jalur VIP Bandara Juanda Hanya Dituntut 1 Tahun

Photo : tiga terdakwa penyelundup Baby Lobster saat mendengarkan tuntutan JPU di Pengadilan Negeri Sidoarjo. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Sidang tiga terdakwa pelaku penyelundup Baby Lopster melalui jalur Very Important Person (VIP) Terminal Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo hari Senin (14/10).

Dalam persidangan Ketiga terdakwa yang merupakan oknum pegawai PT Angkasa Pura Bandara Juanda itu hanya dituntut 1 tahun kurungan penjara dan denda Rp 50 juta, subsider 3 bulan kurungan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sidoarjo.

Tiga tim JPU Kejaksaan Negeri Sidoarjo yakni, Rochidah, Efreni dan Andik secara bergantian membacakan surat tuntutannya dihadapan Majelis Hakim. Sementara tiga terdakwa duduk berdampingan meski berkas ketiganya dipisah (Split).

Tuntutan pertama kali dijatuhkan kepada terdakwa Agus Tri Harjono. Jaksa Rochida yang membacakan tuntutan terhadap terdakwa berprofesi sebagai petugas Apron Movement Control (AMC) Bandara Juanda yang menjadi pelaku sentral dalam kasus penyelundupan baby lobster sebanyak 113.300 atau ditaksir dengan nilai Rp 17,3 miliar tersebut.

Selanjutnya Jaksa Andik membacakan tuntutan kepada terdakwa Vicky Nurdana, Team Leader Aviation Security (Avsec) Bandara Juanda, dan terakhir Jaksa Efreni membacakan tuntutan kepada Rifki Ijazul Haq, petugas Baggage Checker Bandara Juanda.

Meski tuntutan itu dibacakan secara bergantian, namun ketiga terdakwa itu dituntut dengan hukuman yang sama, walaupun para terdakwa dalam fakta persidangan mengaku sudah tujuh kali melakoni penyelundupan tersebut dan sudah menikmati upahnya.

Jaksa mengungkapkan, terdakwa para terbukti melakukan tindak pidana kepabeanan sebagaiaman diatur dalam pasal  pasal 102 A huruf a Undang-undang nomor 17 tahun 2006 perubahan Undang-undang nomor 10 tahun 1995 tentan Kepabeanan, Jo pasal 56 ayat 1 ke 1 KUHP.

Usai membacakan tuntutan, para jaksa memberikan surat tuntutan tersebut kepada tiga terdakwa. Sementara, atas tuntutan itu Ketua Majelis Hakim Minanoer Rachman memberikan kesempatan kepada terdakwa melakukan pledoi atau pembelaan atas tuntutan tersebut.

 "Silahkan nanti saudara terdakwa melakukan pembelaan pekan depan, bisa membuat sendiri atau melalui penasehat hukumnya," ucap, Hakim Ketua Minanoer Rachman sambil menyampaikan bahwa sidang pekan depan ditunda pada Selasa (22/10/2019) mendatang, tidak pada hari Senin karena anggota majelis ada yang berkepentingan.

Sebelumnya, sebanyak 3 terdakwa oknum pegawai Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo diadili di PN Sidoarjo, terkait kasus dugaan penyelundupan baby lobster sebanyak 113.300 yang di simpan dalam 4 koper dengan taksiran senilai Rp 17,3 miliar.

Ketiganya merupakan pegawai PT Angkasa Pura Bandara Juanda yaitu Agus Tri Harjono, petugas Apron Movement Control (AMC), Vicky Nurdana, Team Leader Aviation Security (Avsec) dan Rifki Ijazul Haq, petugas Baggage Checker. Ketiganya didakwa dengan berkas terpisah (split).

Dalam surat dakwaan mengurai, bahwa penyelundupan melalui area steril yaitu VIP Terminal 1 Bandara Juanda itu sudah diskenario oleh para terdakwa. Mereka membagi tugas agar ratusan ribu baby lobster itu lolos menuju Singapura.

Awalnya, Agus mendapat tawaran dari Anton Sandi Yudho, yang merupakan petugas Certified Refeuling Operator (CRO) pada Pertamina Training dan Consuling DPPU Juanda Pertama Aviation untuk kerjasama meloloskan baby lobster tersebut.

Tawaran itu pada April 2019 lalu. Anton yang saat ini merupakan DPO itu menyampaikan kepada Agus bahwa terkendala dengan pengiriman baby lobster karena terkendala izin oleh pihak Bea dan Cukai Juanda. Ia meminta melalui jalur belakang.

Permintaan itu disetujui Agus, apalagi pihak Anton menjanjikan uang Rp 10 juta untuk setiap koper yang berhasil lolos. Usai deal, Agus meminta agar Anton mengubungi Vicky dan Ainoer Rofiq, yang kini juga menjadi DPO. Anton pun menghubungi keduanya dan sepakat mau membantu. Bukan sampai di situ, Anton akhirnya mengenal Rifki Ijazul Haq dan mau membantu persengkokolan itu.

Pada 23 Juni 2019 lalu, Anton akhirnya menyampaikan kepada Agus bahwa ada order baby lobster yang diselundupkan ke Singapura. Agus pun menguhubungi ketiga rekannya agar memuluskan penyelundupan 4 koper berisi baby lobster.

Ke esok harinya, pada tanggal 24 Juni 2019 mereka pun beraksi dengan peran masing-masing. Rifqi lalu berperan meminta kepada petugas Counter Cek In agar mencetakkan boarding pass dan claim tag sebayak 4 koper penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA854 dengan rute Surabaya ke Singapura atas nama Roni Iskandar dan Didik Ismanto.

Setelah itu, tiket tersebut dikirim petugas melalui Whatsapp kepada Rifqi. Usia mendapat tersebut, Rifqi menghubungi Ainoer Rofiq dan diserahkan kepada Vicky. Setelah itu, Vicky memerintahkan kepada anak buahnya mensterilkan VIP T1 Bandara Djuanda dan membuka pintu gerbang.

Dengan mudahnya dan tanpa melalui SOP Anton lalu masuk menggunakan Mobil Kijang LGX yang di dalamnya ada empat koper baby lobster ke landasan Bandara Juanda melalui VIP Terminal 1 Bandara Juanda.

Usia itu, barang tersebut diturunkan lalu dibawa oleh Ainoer Rofik dan memasang claim tag dan memasukan ke pesawat. Untungnya, pihak petugas gabungan sigap dan berhasil mengungkap sebelum pesawat take off dari Bandara Juanda.

Sementara adanya dua DPO tersebut, pihak Bea dan Cukai Bandara Juanda akan mengejar dua DPO lainnya yaitu Anton Sandi Yudho, yang merupakan petugas Certified Refeuling Operator (CRO) pada Pertamina Training dan Consuling DPPU Juanda Pertama Aviation dan Ainoer Rofiq, petugas Baggage Towing Tractor (BTT) Bandara Juanda.

"Tetap akan kami kejar dua DPO itu. Kami juga sudah berkerjasama semua pihak, termasuk dengan Mabes Polri dan pihak Angkasa Pura karena kami ada keterbatasan kewenangan, maka kami bekerjasama dengan semua pihak untuk menangkap DPO itu," ucap Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Juanda Budi Harjanto pada media Senin (23/9/2019) lalu. (rief)


Posting Komentar