Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : Notaris Dyah Nuswantari Ekapsari saat dibawa ke Lapas Delta Kelas II A Sidoarjo. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Penyidik Bareskrim Mabes Polri dan Kejagung kembali melimpahkan berkas perkara kasus penyerobotan lahan Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) Jatim pada hari Kamis (3/10) pagi. Agenda atas dua tersangka Notaris Dyah Nuswantari Ekapsari dan Umi Chulsum yang diduga terlibat dalam pemalsuan akta ontentik itu kembali dilimpahkan tahap II ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo.

Kepala Kejaksaan Negeri Sidoarjo, 
 Setyawan Budi Cahyono saat dikonfirmasi menyampaikan, sekarang tersangka sudah ada di Lapas Sidoarjo untuk dicek kesehatanya.

"Kalau kita melakukan penahanan, makanya kita antar ke Lapas karena kondisinya sakit,"terang, Setyawan Budi Cahyono pada memojatim hari Kamis (3/10).

Kejari Sidoarjo menambahkan, Rutan yang mutuskan, kalau memungkinkan ditahan ya kita tahan karena kondisinya sakit. Masing-masing tersangka ini berkasnya berbeda. Selain itu pihak Kejari Sidoarjo sudah menunjuk empat Jaksa untuk perkara ini membantu Jaksa Kejakasaan Agung.

"Tujuh Jaksa yang menangani perkara ini dari Kejagung tiga dan Kejari empat, biar bersinambungan,"jelas, Setyawan Budi Cahyono.

Disinggung soal peran dari Notaris Kajari menjelaskan, peran dari Notaris yang membuat akta ontentik, dan dalam waktu 14 hari sudah siap disidangkan.

"Peran Notari yang membuat akta ontentik,"ungkapnya.

Diketahui pelimpahan tahap II ini agenda menyerahkan tersangka Notaris Dyah Nuswantari Ekapsari dan Umi Chulsum. Namun, Umi Chulsum lagi-lagi tidak datang dengan alasan yang sama seperti sebelum-sebelumnya yakni sakit.

"Kita menunggu saja sifatnya dari Mabes Polri, kalau sudah siap mereka untuk ngantar ke kita ya kita tindak lanjuti,"pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, modus dalam kasus ini tanah yang semula atas nama badan (Puskopkar), dialihkan atau dijual yang mengarah pada perorangan. Namun, dalam penyidikannya Bareskrim Mabes Polri, tanah seluas 20 hektar itu terungkap adalah milik Puskopkar Jatim. 

Tanah itu dulunya masih atas nama Iskandar yang dikuasakan oleh Puskopkar Jatim yang saat itu menjabat sebagai Ketua Divisi Perumahan. 

Namun, sesudah Iskandar meninggal, tanah itu dikuasai atau diakui oleh Reny Susetyowardhani anak dari almarhum Iskandar. Seiring waktu, sesudah Iskandar meninggal, tanah itu dijual Reny dengan memalsukan sejumlah dokumen dan dibeli Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan dengan uang muka sekitar Rp. 3,5 miliar.

Setelah memberikan uang muka itu, Henry J Gunawan sudah berani membangun di atas area seluas 20 hektar tersebut. Bangunan yang di dirikan berupa pergudangan itu diperjualbelikan. Kenekatan Henry J Gunawan oleh Bareskrim Mabes Polri dianggap telah merugikan Puskopkar Jatim. (rief)

Posting Komentar