Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : Tersangka Henry Jocosity Gunawan dan Lunekke Anggraeni saat digelandang ke mobil tahanan di Kejari Surabaya. (Arief,memojatim)

Surabaya-Memo. Dirut PT Gala Bumi Perkasa, Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan dijebloskan ke Penjara oleh Kejaksaan Negeri Surabaya terkait kasus pemberian keterangan palsu akte otentik sebagaimana dimaksud dalam pasal 263 KUHP dan atau pasal 264 KUHP dan atau pasal 266 KUHP.

Penahanan bos PT Gala Bumi Perkasa tidak sendiri, Henry ditahan bersama istrinya Lunekke Anggraeni usai pelimpahan tahap II oleh Polrestabes Surabaya ke Kejaksaan Negeri Surabaya pada hari Kamis (19/9) pagi.

Pasangan Suami Istri (Pasutri) Henry Jocosity Gunawan dan Lunekke Anggraeni diduga telah melakukan memberikan keterangan palsu atas pembuatan akte otentik.

Kasi Pidum Kejari Surabaya, Farriman Isnandi Siregar menyatakan, keduanya ditahan karena dikhawatirkan akan melarikan diri, merusak barang bukti dan mengulangi perbuatannya.

"Keduanya ditahan dengan alasan subjektif dan objektif. Tersangka HJG dan LA ini disangkakan dengan pasal 266 KUHP, memberikan keterangan palsu atau tidak benar didalam akta otentik,"ungkap, Kasi Pidum Farriman saat dikutip memojatim hari Kamis (19/9).

Masih kata Kasi Pidum, pihaknya bersikap tegas karena kedua tersangka tidak koperaktif atau mangkir dari panggilan penyidik sebanyak 2 kali.

"Informasi dari penyidik, bahwa kedua tersangka sempat dua kali  tidak memenuhi panggilan penyidik untuk penyerahan tersangka dan  barang bukti di Kejaksaan,"ungkap Farriman.

Dengan ditahannya Henry dan Iuneke ini, Kejari Surabaya akan segera merampungkan surat dakwaan dan selanjutnya akan melimpahkan perkara ini ke Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

"Secepatnya kami selesaikan dan kami limpahkan ke Pengadilan untuk disidangkan,"jelas, Kasi Pidum Farriman.

Saat ditanya apakah kedua tersangka mengajukan permohonan penangguhan penahanan, Farriman mengaku tidak.

"Informasi dari Penuntut Umum belum ada pengajuan penangguhan penahanan,"pungkasnya.

Sementara Henry dan Iuneke maupun Pengacaranya memilih bungkam saat ditanya seputar kasusnya. Henry terlihat kerap menutup wajahnya dengan sebuah tas plastik yang berisi makanan dan minuman.

Sekedar diketahui, Henry Jocosity Gunawan dan Iuneke Anggraini ditahan usai menjalani pelimpahan tahap II dari penyidik Polrestabes Surabaya ke Kejari Surabaya.

Henry dan Iuneke mendatangi Kejari Surabaya sekitar Pukul 10.00 Wib dengan didampingi tim penasehat hukumnya.

Tepat pada pukul 15.15 Wib, Hery dan Iuneke turun dari ruang pemeriksaan dengan pengawalan ketat dari petugas keamanan internal Kejari Surabaya dan Petugas Kepolisian.

Selanjutnya keduanya digiring menuju mobil tahanan bersama tersangka kriminal lainnya untuk dibawa ke Rutan Medaeng.

Kasus Henry dan Iuneke ini bermula  dari laporan Direktur PT Graha Nandi Sampoerna ke Polrestabes Surabaya pada bulan Oktober 2018, yakni laporan tindak pidana dugaan pemalsuan surat atau membuat akte palsu dan atau memalsukan keterangan palsu dalam akte otentik. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 263 KUHP dan atau pasal 264 KUHP dan atau pasal 266 KUHP.

Kronologis perkara dimulai dari pembuatan 2 akte yakni  perjanjian pengakuan  hutang dan  personal guarantee yang dibuat oleh PT Graha Nandi Sampoerna sebagai pemberi hutang dan Henry Jocosity Gunawan sebagai penerima hutang di hadapan notaris Atika Ashiblie SH di Surabaya pada tanggal 6 juli 2010 dihadiri juga oleh Iuneke Anggraini.

Dalam kedua akte tersebut Henry Jocosity Gunawan menyatakan mendapat persetujuan dari istrinya yang bernama Iuneke Anggraini, bahkan Iuneke pun ikut bertanda tangan di hadapan notaris saat itu.

Belakangan terungkap bahwa  perkawinan antara Henry Jocosity Gunawan dengan Iuneke Anggraeni baru menikah pada tanggal 9 november 2011 dan  dilangsungkan di salah satu wihara di Surabaya dan dicatat di dispenduk capil pada 9 November 2011.

Fakta tersebut tidak sesuai dengan akte perjanjian pengakuan hutang dan personal guarantee yang dibuat pada tanggal 6 juli 2010,  Dimana Henry menyatakan telah menikah dengan Lunekke Anggraini pada tahun 2010 saat akte dibuat, padahal baru menikah pada tahun 2011. 

Pelapor merasa dirugikan baik secara materiil dan immateriil  karena jika mengetahui Henry Jocosity Gunawan dan Lunekke Anggraini belum menikah, maka PT Graha Nandi Sampoerna pasti tidak mau mau memberikan pinjaman uang sebesar Rp 34 miliar kepada Henry Jocosity Gunawan.

Selain itu, bos PT Gala Bumi Perkasa, Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan juga menjadi tersangka (kasus berbeda) bersama empat tersangka lainnya yakni, Dirut PT Dian Fortuna Erisindo, Reny Susetyowardhani, Notaris Yuli Ekawati, Umi Chulsum, dan Dyah Nuswantari terkait kasus penyerobotan dan pemalsuan akte otentik lahan milik  Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) Jatim seluas 20 hektar yang ditangani Bareskrim Mabes Polri dan Kejagung dan sudah dilimpahkan berkas tahap II pada hari Rabu (18/9) kemarin. (arief)

Posting Komentar