Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : doc mantan Kepala Dinas Pendidikan Pemkab Sampang saat menjadi saksi di Pengadilan Tipikor. (Abd Halim,memojatim)

Sampang-Memo. Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang terus mengembangkan dugaan kasus korupsi proyek pembangunan gedung Ruang Kelas Baru (RKB) SMP Negeri 2 Ketapang, Kabupaten Sampang. Hal itu ditunjukan pada hari Senin (30/9) sore tim penyidik Kejaksaan Negeri Sampang kembali melakukan penahanan terhadap mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Jupri Riyadi yang dinilai turut terlibat dalam kasus korupsi pembangunan gedung RKB SMP Negeri 2 Ketapang.

Jupri Riyadi ditahan usai dilakukan pemeriksaan selama tiga jam oleh penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sampang. Namun, saat keluar dari ruangan menuju mobil tahanan, Jupri Riyadi sempat memberikan keterangan pada media yang sejak awal menunggu dihalaman kantor kejaksaan.

Dalam keterangannya Jupri Riyadi menyatakan, dirinya tidak menyangka akan menjadi tersangka atas perkara yang ia (Jupri Riyadi) laporkan sendiri itu. 

"Saya yang menjadi pelapornya, tapi sekarang saya menjadi tersangka, saya sudah mengirim surat teguran kepada CV Amora Palapa untuk memperbaiki semasa pemeliharaan, karena tidak diindahkan maka saya lapor ke polisi. Tapi ini resiko jabatan, saya ikhlas untuk menjalani," ucap, Jupri Riyadi pada media.

Selain itu, Jupri Riyadi juga mengungkapkan bahwa, pembangunan yang bukan hanya pembangunan SMP Negeri 2 Ketapang. Ungkapan yang dilontarkan tersangka mantan Kepala Dinas Pendidikan Pemkab Sampang, Jupri Riyadi tersebut seakan kode dan menunjukan bahwa kebobrokan pembangunan gedung pendidikan di Sampang tidak hanya di SMP Negeri 2 Ketapang.

"Bisa dilihat sendirikan, yang roboh bukan hanya di SMPN 2 Ketapang saja," terangnya, sambil berlalu meninggalkan media.

Sementara, Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Sampang Edi Sutomo menanggapi nyanyian dari tersangka  mengatakan, mempersilahkan Jupri Riyadi untuk bisa membuktikan pernyataan tersebut dalam persidangan.

"Silahkan dibuktikan dipersidangan nanti, kalau punya alat bukti kuat, silahkan dibuktikan," tegas, Edi Sutomo.

Edi Sutomo menambahkan, penahanan Jupri dilakukan selama 20 hari ke depan di Rutan Kelas IIB Sampang. Jupri diketahui sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam kasus perkara tersebut.

Penyidik menahan Jupri dengan alasan subyektif, yakni sesuai pasal 21 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

"Takut melarikan diri, takut menghilangkan barang bukti, dan mengulangi perbuatannya,"tutur, Edi Sutomo.

Sedangkan alasan obyektif berdasarkan pasal 21 ayat (4) KUHAP, penahanan tersangka karena ancaman hukumannya lebih dari lima tahun penjara.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, 
Kasus dugaan korupsi pada proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) SMP Negeri 2 Ketapang, Sampang, Madura dengan nilai total anggaran Rp134 juta ini, bermula ketika CV Amor Palapa milik terdakwa Abd  Aziz dipinjam oleh Mastur Kiranda untuk kepentingan yang berkaitan dengan legitimasi memperoleh dan menjadi pelaksana proyek.

Selanjutnya Direktur CV Amor Palapa Abd Aziz diberi uang senilai Rp2,5 juta karena telah meminjamkan CV-nya, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan di wilayah itu. Berikutnya, Mastur Kiranda berhasil menjadi pelaksana proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) di SMPN 2 Ketapang berkat pinjam nama CV milik terdakwa.

Namun, dalam perkembangannya,  Mastur Kiranda tidak mengerjakan sendiri proyek tersebut melainkan masih disubkontrakkan kepada kontraktor lainnya yakni, Noriman.

Selanjutnya, Mastur Kiranda tidak menyerahkan biaya proyek RKB SMP Negeri 2 Ketapang, Sampang itu, sepenuhnya, yakni Rp134 juta kepada Noriman. Ia hanya menyerahkan uang Rp75 juta. Lantas, Noriman mengerjakan proyek RKB SMP Negeri 2 Ketapang itu, sesuai dengan anggaran yang diterimanya. Hasilnya, gedung RKB tersebut ambruk tak lama setelah dinyatakan tuntas dan selesai pembangunannya. (hl/rif)



Posting Komentar