Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : enam saksi saat memberikan keterangan di Pengadilan Tipikor Surabaya. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Pengemplang dana APBD II tahun 2018 senilai Rp 277.626.000 juta kembali di sidangkan di Pengadilan Tipikor Surabaya pada hari Rabu (12/6). Dua terdakwa yakni, Hazmi Azhari dan Fedryan Ariesandi sebagai pemilik CV Tiga Putri rekanan pemenang tender atas proyek pembangunan pemeliharaan jalan di Dusun Sonok, Desa Karang Tengah, Kecamatan Nonggunong Pulau Sapudi Kabupaten Sumenep Jawa Timur tidak bisa mempertanggungkan perbuatanya sehingga harus duduk dikursi pesakitan Pengadilan Tipikor Surabaya.

Sidang dengan agenda saksi tersebut Jaksa Kejaksaan Negeri Sumenep menghadirkan enam saksi dari Dinas PU Bina Marga Kabupaten Sumenep. Dalam keterangannya saksi menyatakan bahwa, membenarkan uang masuk ke rekening CV Tiga Putri.

"Uang masuk ke rekening CV Tiga Putri,"terang, saksi dalam persidangan diruang Candra Pengadilan Tipikor Surabaya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sumenep, Syaiful Arif kepada saksi menanyakan apakah setelah dana diterima terdakwa saudara tidak menanyakan kenapa pekerjaan belum dikerjakan.

"Sauadara tidak menanyakan kenapa pekerjaan belum dijerjakan,"tanya, Jaksa Syaiful Arif pada saksi, dan dihawab tidak.

Seperti pemberitaan sebelumnya, terdakwa Hazmi Azhari dan Fedryan Arisandi diketahui adalah Direktur di CV Tiga Putri selaku pemenang tender dan telah menerima uang muka pekerjaan pemeliharaan jalan di Dusun Sonok, Desa Karang Tengah, Kecamatan Nonggunong Pulau Sapudi Kabupaten Sumenep sebesar Rp 277.626.000 juta dari nilai kontrak sebesar Rp 925.420.000 dari pagu anggaran sekitar Rp 1 miliar atas dana yang dikucurkan dari APBD II tahun 2018.

Namun, dalam pelaksanaannya uang muka yang diterima tidak dipergunakan untuk pembelian barang. Akibatnya proyek pekerjaan tersebut mangkrak dan diputus kontrak.

Sementara diluar sidang Kasi Pengelolahan Barang dan Bukti (Barbuk) Kejaksaan Negeri Sumenep, Eddi saat dikonfirmasi memojatim menyampaikan, uang muka yang diterima tidak dipergunakan untuk pembelian barang sebagaimana mestinya.

"Uang muka yang diterima tidak dipergunakan pembelian barang sebagaimana mestinya,"pungkas, Eddi. (Arief)

Posting Komentar