Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : saksi saat memberikan keterangan di Pengadilan Tipikor Surabaya. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Sidang perkara korupsi di Koperasi Tani Ketajek Makmur milik Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kabupaten Jember yang menyeret Choirul Suparjo dan Sutomo sebagai terdakwa, Jaksa menghadirkan 9 saksi yang terdiri dari pembeli hasil kebun dan penyewa lahan.

Namun, sebelum 9 saksi memberikan keteranganya saksi nenjalani pembacaan sumpah dulu oleh majelis hakim. Usai menjalani pembacaan sumpah, seperti biasa Ketua Majelis Hakim Dede Suryaman SH. MH., menanyai para saksi apakah mengenal dan ada hubungan keluarga dengan kedua terdakwa.

"Saudara apakah mengenal dan ada hubungan keluarga dengan dua terdakwa,"ucap, Hakim Ketua Dede Suryaman menanyai 9 saksi dalam persidangan hari Kamis (28/3/2019) diruang Cakra Pengadilan Tipikor Surabaya di jalan raya Juanda, Sidoarjo.

Dari ke sembilan saksi satu diantaranya anak terdakwa Choirul Suparjo yakni, Agus ikut menjadi saksi dalam kasus yang menelan kerugian uang negara Rp 18 miliar tersebut. Mengetahui salah satu saksi ada anak terdakwa majelis hakim menanyakan ke terdakwa keberatan apa tidak anaknya ikut menjadi saksi.

"Saudara terdakwa keberatan apa tidak Agus menjadi saksi,"tanyak, Dede Suryaman yang langsung mendapat jawaban keberatan dari terdakwa Choirul Suparjo.

Selanjutnya, Hakim Ketua meminta saksi Agus untuk pindah duduk di kursi belakang tempat pengunjung.

Dalam persidangan saksi H. Sukur menyatakan, pernah membeli hasil kebun kopi beberapa kali dengan Agus yang tak lain anak dari terdakwa Choirul Suparjo.

"Saya dua kali membeli hasil kopi dengan Agus,"terang, saksi H. Sukur.

Dalam transaksi jual beli hasil kebun tersebut dibuktikan dengan kwitansi yang nilai ratusan juta sebanyak dua kali pembelian.

Sementara Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Jember, Herdian Rahardi SH saat dikonfirmasi menyampaikan, memang ada transaksi jual beli antara saksi dan anak terdakwa yakni Agus, namun dalam keterangan pada pemeriksaan aliran uang itu dikasihkan kepada terdakwa Choirul Suparjo.

"Aliran uang hasil kebun itu semua dikasihkan ke Choirul Suparjo,"tutur, Kasu Pidsus, Herdian Rahardi pada memojatim usai persidangan.

Masih kata Herdian Rahardi, dalam prakteknya semua aliran uang penjualan hasil kebun itu diserahkan ke terdakwa sejak tahun 2014 sampai tahun 2018, sehingga negara dirugikan sekitar kurang lebih Rp18 miliar dari semua penjualan hasil kebun tersebut.

Sekedar diketahui proses persidangan ini berjalan dramatis dikarenakan semua yang berada diruang sidang harus menggunakan mascer (penutup hidung) dan semua pintu dibuka lebar dikarenakan salah satu terdakwa yakni, Choirul Suparjo menderita penyakit Tuberculosis (TBC). (Arief)

Posting Komentar