Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : M Sholeh and Partner mendampingi warga Surabaya saat ajukan gugatan di PN Surabaya. (Arief,memo)

Surabaya-Memo. Amblesnya jalan raya Gubeng Surabaya menuai reaksi keras dari Paguyuban Arek Suroboyo yang mewakili warga Surabaya. Hal tersebut ditunjukan dengan Paguyuban Arek Surobyo didampingi kuasa hukumnya M Soleh mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada hari Jumat (21/12/2018) untuk menggugat PT Nusa Kontruksi Injinering Tbk yang beralamat di jalan Sunan Kalijaga No.64 Jakarta Selatan, saat ini berkantor di jalan raya Gubeng No.78 Surabaya dan Rumah Sakit Siloam Hospital yang berada di jalan raya Gubeng No.70 Surabaya selaku tergugat.

Kordinator Paguyuban Arek Suroboyo, Kusnan Hadi pada memojatim menyampaikan, gugatan ini sebagai bentuk reaksi arek Surabaya yang tidak terima atas terjadinya longsornya jalan raya Gubeng. RS Siloam dan pimpinan proyek harus bertanggung jawab, peristiwa ini bukan hanya merugikan pemerintah tapi masyarakat Surabaya banyak dirugikan.

"Untuk RS Siloam Hospital harus mengganti atas rusaknya pembangunan jalan serta kerugian toko yang ada di sekitar lokasi,"ungkap, pria yang akrap disapa Kusnan itu.

Masih lanjut Kusnan, sementara penegak hukum juga segera tahan itu pimpinan pelaksana proyek agar tidak melarikan diri dan berupaya menghilangkan bukti-bukti.

"Untuk pimpinan proyek tahan agar tidak kabur, untuk mempermuda tugas penyidik,"tegasnya.

Sementara Penaseha Hukum (PH) M Soleh mengatakan, kita mewakili sejuta warga Surabaya untuk menggugat PT Nusa Kontruksi Injinering Tbk sebagai tergugat satu dan RS Siloam Hospital sebagai tergugat dua dalam pembangunan peluasan rumah sakit. "Kita mewakili satu juta warga Surabaya mendaftarkan gugatan class action hari ini di PN Surabaya," terang, Soleh.

Saat dikonfiramasi apa kesalahan tergugat 1 dan tergugat 2 M Soleh menyatakan, Perbuatan Tergugat 1 yang nyata-nyata melakukan pengerjaan bangunan basemen gedung baru milik Tergugat 2, yang diduga dilakukan secara tidak hati-hati, tanpa meperhitungkan kekuatan tembok penahan tanah serta tidak memperhatikan konstruksi tanah disekitar Jl. Raya Gubeng Surabaya yang pada akhirnya berdampak terhadap amblas dan terputusnya Jalan Raya Gubeng adalah merupakan perbuatan yang dapat dikwalifisir sebagai perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian bagi Penggugat dan kelompok masyarakat Surabaya yang berkepentingan atas pemanfaatan Jalan Raya Gubeng Surabaya tersebut yang mengakibatkan kerugian terhadap penggugat.

"kami menuntut agar Tergugat 1 dan Tergugat 2 membayar ganti rugi secara tanggung renteng kepada penggugat dan kelompoknya sebesar 10.000, x 1.000.000 orang x 30 hari Rp 300.000.000.000," pungkasnya, Soleh usai memasukan gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya. (Arief)


Posting Komentar