Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : dua tersangka saat digelandang ke mobil tahanan usai pemeriksaan. (Arief,memojatim)

Sidoarjo-Memo. Tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo menahan dua tersangka yang diduga selewengkan dana pengadaan pembangunan Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) tahun 2017. Dua tersangka yang ditahan yakni, Nur Ahmad (53), seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo juga merupakan Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP), dan  Abdul Manan (58) selaku rekanan. Kedua tersangka digelandang ke mobil tahanan Kejaksaan Negeri Sidoarjo untuk di jebloskan ke Lapas Kelas II A Delta Sidoarjo usai dilakukan pemeriksaan.

Kasi Intel Kejaksaan Negeri Sidoarjo, Idham Khalid menyampaikan, pihaknya melakukan penahanan terhadap tersangka karena diduga kuat menyalahgunakan dana yang dikucurkan dari Anggara Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2017. Selain itu tersangka dikhawatirkan menghilangkan barang bukti.

"Awalnya kedua tersangka ini kita periksa sebagai saksi dan setelah melalui proses penyidikan, kita naikkan statusnya menjadi tersangka dan langsung dilakukan penahanan, "ungkap Kasi Intel Kejari Sidoarjo Idham Khalid, pada hari Senin (12/11/2018).

Lebih jauh Idham menambahkan, penahanan kedua tersangka ini terkait kasus pengadaan tiga TPST yang berlokasi di Pasar Larangan, Pasar Taman dan Pasar Krian dengan menggunakan APBD 2017, nilai pengadaan sebesar Rp 586.856.000.

"Adapun nilai kerugian negara saat ini masih dalam perhitungan BPKP, "terangnya.

Terjadinya pelanggaran dari pengadaan ini diketahui  setelah pihak penyidik melakukan penyelidikan di ketiga lokasi tersebut dan ditemukan adanya kekurangan volume serta pekerjaan yang dihasilkan tidak sesuai spesifikasi teknis.

"Disamping itu,  pekerjaan ini tidak terselesaikan saat masa proyek telah habis, namun dalam laporan yang dibuat pekerjaan ini telah selesai 100 persen,"tutur, Idham.

Barulah pada tahun 2018 oleh rekanan, pekerjaan yang tidak terselesaikan ini dilanjutkan lagi.

Akibat perbuatannya, tersangka kini terancam pasal 2 ayat 1 Jo 18 dan pasal 3 Jo 18 Undang-Undang  tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Ditambahkan Kasi Intel, pihaknya akan terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini, Karena dari hasil penyidikan beberapa fakta yang sudah mulai terkuak.

"karena tidak menutup kemungkinan kasus ini akan menyeret beberapa pihak untuk dijadikan tersangka."pungkasnya.
(Arief)

Posting Komentar