Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Photo : terdakwa Satrio Marionani saat disidangkan. (Moch Toha,memo)

Surabaya-Memo. Meski tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) berat,  namun oleh majelis hakim persidangan divonis ringan. Hal tersebut rupanya,  terjadi pada terdakwa Satrio Marionani,  pria yang diketahui melakukan tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). 

Sidang yang diketuai Ketua Majelis Hakim Dede Suryaman, SH., MH., tersebut, melalui pertimbangan dan kewenangannya sebagai pemimpin sidang,  akhirnya menjatuhkan putusan ringan pada terdakwa dengan mengganjar hukuman pidana kurungan selama 1 (satu) bulan 10 (sepuluh) hari penjara.

Putusan tersebut jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Fathol Rasyid, SH.,  asal Kejaksaan Negeri (Kejari)  Surabaya,  dengan menuntut berat terdakwa dengan hukuman selama dua (2) Tahun kurungan penjara. 

Dalam kasus tersebut, perbuatan terdakwa Satrio didakwa Jaksa Kejari Surabaya dengan Pasal 44 ayat (1) UU RI. No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). "Kami meminta kepada Majelis Hakim untuk menjatuhkan tuntutan kepada terdakwa selama dua tahun penjara," ketus Jaksa Fathol, dengan nada lirih saat membacakan nota dakwaan di muka pengadilan. 

Pertimbangan yang Mulia Ketua Majelis Hakim Persidangan Dede Suryaman, SH., MH,. saat itu menuturkan. "Hal yang meringankan, selain bersikap sopan terdakwa juga telah berdamai dengan pihak korban (istrinya,  red).,"  sebut Majelis Hakim. 

Dikisahkan,  perbuatan terdakwa bermula, pada Kamis, 28 September 2017, terbukti melakukan kekerasan fisik terhadap Suci Kristanti (korban),  yang tak lain istrinya sendiri di sebuah rumah di Jalan Semolowaru Elok, Blok AC / 2 Surabaya. Percekcokan pasangan suami istri (pasutri) tersebut terjadi karena Suci Kristanti merasa curiga, bahwa terdakwa Satrio Mariyonani mempunyai wanita idaman lain (wil) atau selingkuhan. 
 
Bukannya mengakui perbuatan yang dituduhkan oleh Suci Kristanti (korban), terdakwa Satriyo malah melakukan kekerasan fisik saat cek-cok dengan istrinya. 

Terdakwa Satrio, saat itu sedang duduk di sofa dan menarik tangan Suci Kristanti hingga korban terjatuh dari sofa dan terpelanting kelantai.

Tak berhenti sampai disitu, usai terjatuh kelantai terdakwa Satrio Marionani,  lantas duduk diatas perut korban, dengan mengangkat kedua tangan istrinya. Lalu terdakwa mengambil HP korban dan membantingnya. Dari hasil visum, korban Suci Kristanti mengalami luka nyeri bagian perut, nyeri tangan kiri, jari ketiga bengkak.

Di akhir persidangan yang Mulia Ketua Majelis Hakim Persidangan meminta jaksa penuntut umum (JPU)  Fathol Rasyid untuk menanggapi putusan yang telah digulirkan tersebut,  namun oleh jaksa berpenampilan tambun tersebut menyatakan menerima semua putusan sidang (tidak banding).  (mth)
 

Posting Komentar