Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Foto : Kedua saksi saat dihadirkan dalam persidangan Pengadilan Negeri Surabaya. (Moch Toha,memo)

Surabaya-Memo. Sidang perkara Lucia Yuny Susanti,  terdakwa kasus penipuan investasi kembali digelar diruang sidang Pengadilan Negeri (PN)  Surabaya,  Senin (2/4/2018).

Sidang yang diketuai Hakim Timur Pradoko, SH. MH.,  tersebut dengan agenda keterangan saksi korban yakni, Ir. Luthfie Wahyu Widodo MM.  

Dalam persidangan, alumnus ITS tersebut hadir bersama istrinya, Lani Ludiana yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU)  Juhariyah asal Kejati Jatim dengan mengenakan kemeja hijau saat memberikan kesaksian dimuka persidangan. 

Dalam kesaksianya, kedua saksi mengaku tergiur dengan dengan janji 150 persen yang dijanjikan terdakwa dalam 15 harinya." Kami dijanjikan 150 persen setiap dua minggu pak Hakim, namun saudara terdakwa tidak menepati janjinya," tutur saksi saat menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Timur Pradoko.

Mendengar hal tersebut, Hakim anggota Dedi Fardiman langsung menanyakan pendidikan saksi." Maaf saksi pendidikan terakhir apa," tanya Hakim anggita Dedi Ferdiman yang dijawab saksi dengan pendidikan yang pernah dienyamnya sampai S2.

"Ya maaf, tapi ini sudah terjadi. Saudara kok begitu mudahnya percaya dengan keuntungan sebesar itu, padahal, Bank Indonesia (BI) saja, hanya memberikan suku bunga 6,1 persen dalam setahun. Nah ini, 150 persen dalam 15 hari (dua minggu), " tanya Hakim anggota yang spontan disambut gelak tawa pengunjung sidang.

Atas pertanyaan Hakim tersebut, saksi hanya tersenyum kecut, dirinya mengaku awalnya tidak mengetahui, dari terdakwa sendiri." Awalnya saya tahu dari Facebook Pak Hakim, dan istri saya juga mengaku sudah mendapat keuntungan. Karenanya saya tertarik dan menginvestasikan Rp 23 juta," ungkapnya. 

Dalam keterangannya, saksi mengaku tergiur dengan dengan janji 150 persen yang dijanjikan terdakwa setiap 15 hari." Kami dijanjikan 150 persen setiap q5 hari pak Hakim, namun saudara terdakwa tidak menepati janjinya," terangnya menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Timur Pradoko.

Mendengar hal tersebut, Hakim anggota Dedi Fardiman langsung menanyakan pendidikan saksi." Maaf saksi pendidikan terakhir apa," tanya Hakim Dedi yang dijawab S2.

"Ya maaf, tapi ini sudah terjadi. Saudara kok begitu mudahnya percaya dengan keuntungan sebesar itu, padahal, Bank Indonesia (BI) saja, hanya memberikan suku bunga 6,1 persen dalam setahun. Nah ini 150 persen dalam 15 hari," tanya Hakim anggota Deddi Fardiman kembali yang disambut gelak tawa pengunjung sidang.

Atas pertanyaan Hakim tersebut, saksi hanya tersenyum, dirinya mengaku awal tidak mengetahui dari terdakwa sendiri." Awalnya saya tahu dari Facebook Pak Hakim, dan istri saya juga mengaku sudah mendapat keuntungan. Oleh karena itu saya tertarik dan menginvestasikan Rp 23 juta," pungkasnya.

Diluar persidangan saat dikonfirmasi, Ari Tomo,  selaku Penasehat Hukum (PH) terdakwa mengatakan, saksi dan terdakwa sebenarnya masih saudara, dalam kasus tersebut sudah ada pertemuan antara kedua belah pihak untuk mengganti kerugianya." Ini hanya faktor gengsi, saat akan diberikan ganti rugi, saksi minta Rp 250 juta ," ungkapnya.

"Selama ini sudah banyak yang mendapat keuntungan termasuk Lani Ludiana (saksi) istri Luthfie, dimana dirinya berinvestasi Rp 250 ribu dan mendapat keuntungan Rp 910 ribu, namun saat berinvestasi lagi, akun sudah ditutup oleh yang diatas sebelum menarik dananya," imbuhnya.

"Sementara, saksi Luthfie dan klien kami saat melakukan investasi, sudah ada draf perjanjian dimana setiap anggota harus mempunyai 18 kaki (jaringan), nah disitu tidak dilakukan, sampai akun ditutup. Dalam kasus ini klien kami juga menjadi korban karena akun ditutup oleh yang diatasnya (pimpinan) ," pungkas penasehat hukum Ari.

Sekedar diketahui, Dalam menjalankan investasi Kokajang (MLM) yang dilakukan, terdakwa menawarkan keuntungan sebesar 150 persen melalui akun Media sosial (Medsos) , Dikarenakan kegiatan dilakukan melalui Medsos, Jaksapun menjeratnya dengan pasal 45 ayat (2) jo pasal 28 ayat (1) UU no 11 tahun 2008 tentang Informasi tekhnologi dan elektronika (ITE) atau UU ITE.  (mth/rif)

Posting Komentar