Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Photo : Anggota polisi melakukan pengamanan saat penggeledahan rumah terduga penyerobot lahan di Surabaya. (Istimewa)

Surabaya-Memo. Setelah melakukan penggeledahan kantor notaris Umi Chalsum pada hari Rabu (18/4/2018) lalu. Kini tim penyidik kembali menggeledah rumah milik RSW (perempuan) yang berada di Jalan Kanginan, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, yang diduga selaku terlapor dalam kasus penyerobotan dan penggelapan lahan milik Puskopar TNI AL.

Tim penyidik Bareskrim Polri di bantu empat anggota dari Polrestabes Surabaya melakukan penggeledahan dimulai sejak pukul 11:00 wib. Siang hingga sekitar pukul 16:00 wib. Sore dan beberapa tumpuk berkas berhasil diamankan.  Bukan hanya itu, RSW pemilik rumah bertingkat itu juga ikut di bawah bersama suaminya ke dalam mobil petugas.

Petugas saat dilokasi enggan menjawab pertanyaan dari media hanya mengatakan, "bahwa kasus ini terkait penggelapan dan kedua anggota keluarga akan diamankan di Mapolrestabes Surabaya untuk sementara."singkatnya.

Dalam kasus ini sebenarnya sudah lama dan pernah menjadi perhatian Polda Jatim, namun tidak ada perkembangan dan kini ditangani Mabes Polri. Bermula mencuatnya kasus ini ke rana hukum pada tahun 2004 silam, dimana Bupati menunjuk Puskopar Jatim sebagai pelaksana relokasi lahan Desa Pranti, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo.

Dalam pelaksanaanya, H Iskandar (almrh) ayah tersangka RSW selaku Kepala Bagian Devisi Perumahan dan panannggung jawab pelaksanaan relokasi. Setahun kemudian H Iskandar selaku penerima kuasa relokasi meninggal dunia, bersamaan dengan pemberi kuasa dari Puskopkar Jatim, Rubai Suryo Hutomo juga meninggal. Akibatnya, semua aset dan surat berharga seharusnya di kembalikan ke Puskopkar Jatim.

Namun, diduga tersangka Reny telah menyalahgunakan dengan menyerobot dan menggunakan akta pelepasan nomor 15/16 tanggal 24 Nopember 2004 yang diduga dipalsukan. Kemudian, Lahan seluas 23 hektare dijual ke Henry Gunawan pemilik PT Gala Bumi Perkasa sebesar 15 miliar rupiah.

Padahal hingga saat ini, tanah tersebut masih dalam anggunan atau jaminan hutang di BTN sebesar 24 miliar rupiah yang digunakan untuk pembebasan lahan tersebut. (al/rif)

Posting Komentar