Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Foto : Tersangka Sholekhuddin saat menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Sidoarjo. (Arief,memo)

Sidoarjo-Memo. Pekerjaan Rumah (PR) Kejaksaan Negeri Sidoarjo, satu tersangka terkait kasus pengurasakan patok tanah milik kampus Universitas Surabaya (Ubaya), pada hari Saptu (03/03/2018) berhasil dieksekusi. 

Dari Tujuh tersangka yang masuk dalam Daftar Pencaian Orang (DPO), Satu tersangka Sholekhuddin (40), warga Jl Nanar 3B, Desa Banjarkemuning RT 07 RW 04, Kecamatan Sedati, Sidoarjo berhasil di eksekusi dan langsung dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Delta Sidoarjo oleh tim eksekutor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo.

Sholekuddin merupakan salah satu Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan Negeri Sidoarjo terkait kasus pengerusakan patok tanah milik Kampus Universitas Surabaya sekitar tahun 2015 silam dan ditetapkan menjadi DPO pada tahun 2017 lalu.

Sebelumnya Kejaksaan Negeri Sidoarjo menjadikan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap tersangka, karena diputus bersalah oleh Mahkama Agung (MA) Republik Indonesia (RI) pada tahun 2017. Namun, sebelum dieksekusi terdakwa yang warga Desa Banjarkemuning, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo itu sudah kabur alias melarikan diri dan tidak berada dirumahnya masing-masing.

Hingga sampai saat penangkapan, Kejaksaan Negeri Sidoarjo mendapat kabar bahwa salah satu terdakwa Sholekhuddin sedang menjalani proses pemeriksaan sebagai saksi di ruang Satres Narkoba Mapolresta Sidoarjo. Karena tahu bahwa yang diperiksa itu DPO Kejari Sidoarjo, pihak Polresta memanggil pihak Kejaksaan.

Kepala Kejaksaan Negeri Sidoarjo, Budi Handaka membenarkan atas adanya eksekusi tersebut, saat mendapat kabar pihaknya langsung melakukan penangkapan.

"Penangkapan terhadap DPO ini merupakan sinergitas Kejaksaan Negeri Sidoarjo dengan Polresta Sidoarjo," terang, Kajari Sidoarjo, Budi Handaka.

Masih lanjut Budi Handaka, selain Sholekhuddin, dalam kasus pengerusakan patok tersebut juga ada 7 orang lain yang menjadi daftar pencarian orang yang kini masih dalam proses pengejaran. Namun dari 7 DPO itu, 2 orang diantaranya meninggal dunia. 

5 DPO tersebut yaitu H. Khoirun Nasikin, Aidin Kamim, Nasrul Walid warga Desa Banjarkemuning, Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Kanipan dan Eko Setiyawantah warga Desa Gisik Cemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo.

"Masih ada DPO lain yang masih dalam kejaran kami. Tapi, dua orang atas nama Sanusi dan M Syafilin sudah meninggal dunia," paparnya.

Sementara disaat yang sama, Kasi Pidum I Wayan Sumertayasa menambahkan, salah satu DPO ini sangat tidak koperatis. Sudah beberapa kali dilakukan pemanggilan, namun tidak datang. "DPO ini sangat tidak koperatif," ungkapnya.

Lebih jauh Kasi Pidum, I Wayan Sumertayasa mengatakan, pihaknya sudah sejak lama melakukan pencarian terhadap DPO tersebut.  Saat itu mendapat informasi bahwa yang bersangkutan berada di Polda langsung melakukan pengejaran, namun hilang duluan. Kemudian mendapat informasi dipanggil Poresta, namun tidak datang.

"Nah, waktu dipanggil Polresta, ternyata yang bersangkutan ini takut ditangkap jaksa. Sampai akhirnya kami mendapat informasi bahwa DPO itu akan memenuhi panggilan Polresta. Setelah kami memastikan bahwa DPO itu berada di Polresta, kami langsung melakukan penangkapan," ujarnya.

Kini terdakwa bakal dijerat Pasal 406 ayat 1 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Menghancurkan, merusak, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain.

Sekedar deketahui perkara ini berawal dari sengketa tanah. Pengurusan sertifikat tanah yang dikuasakan kepada warga atas nama Buali.

Permohonan sertifikat tersebut terbit pada tahun 1981, SHM No 17 atas nama Sanusi, No 18 Buali, No 19 Chamim dan No 20 atas nama Senimah, Bisahri, Nasikin, Kanipan dan Sanusi selaku ahli waris Kabiran.

Dalam perjalanan waktu, Tanah seluas 8 hektar tersebut diakui oleh pihak lain, yakni Mustofa Sutopo SH, Kemudian Mustofa  pernah bertransaksi AJB PPAT di Kecamatan Sedati tanggal 24 Januari 1982 dengan pihak Sanusi.

Setelah Mustofa meninggal dunia, tanah tersebut oleh Kusnaningsih istri almarhum Mustofa di jual kepada pihak Yayasan Ubaya. Yang saat itu, pihak ahli waris tetap bersikukuh mengakui bahwa tanah tersebut sertifikat masih atas nama pihaknya sesuai SK yang di cek di BPN Sidoarjo yaitu SK Agraria TLG 19 September 1964 itu yang data suratnya tertulis no. 1/AGR/9/XI/101/III AN Sanusi, 2/AGR/9/XI/101/III AN BUALI, 3/AGR/9/XI/101/III Chamim dan 4/AGR/9/XI/101/III Kabiran.

Sedangkan menurut pemilik tanah Sanusi bahwa pihaknya pada Tahun 2014, Pernah meminta bukti salinan asli maupun fotocopy AJB tahun 1982 di Kecamatan Sedati, namun pihak Kecamatan mengaku bahwa pihak Sanusi tidak pernah ada dan tidak tercatat di register maupun buku bulanan di Kecamatan Sedati. (rif)

Posting Komentar