Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Foto : Terdakwa saat duduk dikursi pesakitan. (Moch Toha,memo)

Surabaya-Memo. Komplotan pelaku tindak kekerasan perampasan mobil taksi online dengan terdakwa M. Ghufron Cs, kembali digelar diruang sidang Chandra, Pengadilan Negeri (PN)  Surabaya. 

Sidang yang diketuai Ketua Majelis Hakim Sarwedi, SH. MH dan Jihad Arkanudin, SH, MH,  tersebut mengagendakan pembacaan nota dakwaan yang diuraikan langsung oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mochammad Yusuf, SH, MH.  

"Saudara saksi Hartoyo (pelaku),  sebelumnya apakah anda sudah merencanakan tentang perampasab mobil online milik korban tersebut, " tanya Jaksa M. Yusuf di muka persidangan,  Rabu (28/3/2018).

Menjawab pertanyaan Jaksa,  lantas terdakwa Hartoyo mengatakan, " Iya pak jaksa,  sejak dari rumah,  usai pesta minuman keras, kami bersama teman-teman lainnya sengaja untuk merencanakan perampasan mobil online, " kata Hartoyo dengan mengenakan peci bundar dan rompi warna hijau muda saat di persidangan. 

Lebih lanjut Hartoyo mengatakan, Sebelumnya,  kami berkomplot dengan teman2 untuk memesan mobil online dari Sidoarjo, lantas kami menghubungi teman-teman,  dengan memasang kode untuk berbagi sandi melalui pesan SMS (Short Massage Service)," imbuh Hartoyo yang bertindak sebagai eksekutor dalam perampasan mobil tersebut. 

Bagaimana cara anda, saat melumpuhkan sopir atau korban tersebut,  tanya Jaksa M. Yusuf.  lantas,  Hartoyo yang duduk bersebelahan dengan terdakwa lainya,  yakni Mat Radji (pelaku yang ditembak kakinya) menjawab,  " Sebelumnya,  memang kami takut2i dengan sebuah celurit dan pistol mainan,"  ungkapnya di hadapan yang mulia majelis hakim.  

Cukup yang mulia,  ucap Jaksa M. Yusuf dengan tegas, usai  membacakan nota dakwaan pada perkara perampasan dengan kekerasan.  Majelis Hakim menunda agenda sidang berikutnya pekan depan, dengan agenda Rencana Penuntutan (rentut) dengan ketok palunya.  

Sekedar diketahui perampasan dengan kekerasan yang dilakukan oleh komplotan spesialist perampasan mobil tersebut diantaranya Hartoyo (eksekutor), Mat Radji (eksekutor dilumpuhkan dengan tembakan kaki), M. Ghufron (penghubung),  Randas Tanamal (DPO),  Choirul Wahid (DPO),  dab Hendra (DPO) dengan berkas terpisah (splitz). 

Komplotan ini beraksi sekitar pertengahan Agustus 2017 lalu,  dengan homebase di kawasan Jl. Kalimas Barat Tanjung Perak Surabaya.  Akibat perbuatanya komplotan ini,  bakal divonis berat dengan jerat Pasal 365 KUHP Ayat (2) (lex spesialist) yang berbunyi perbuatan pidana dengan kekerasan yang bersifat khusus dengan penyertaan yang dilakukan secara bersama-sama atau persekutuan dengan ancaman pidana paling lama 12 Tahun Penjara.  (mth)

Posting Komentar