Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Foto : Kapolda Jatim Irjen Pol Drs. Machfud Arifin saat menggelar barang bikti (arief, memo)

Surabaya,Memo 
Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) menggelar  beberapa produk menjelang Ramadhan yang tidak bisa dijamin kesehatan dan keasliannya seperti Abon Sapi, Merica, Minyak Goreng, Gula, Kacang dan Kopi yang tanpa ijin dari BPOM, juga produksi Abon Sapi maupun Merica oplosan, semua dilakukan pengusaha nakal  ingin meraup keuntungan secara instan.

Satgas Pangan Satreskrim Polda Jatim Surabaya menggelar hasil ungkap beberapa kasus penggerebegan Polrestabes  Surabaya terkait bahan pangan oplosan maupun tanpa ijin BPOM, gelar giat dilakukan di jalan Soponyono nomer 6, Surabaya.

Contoh produk yang melanggar stabilitas pangan antara lain, sebuah  home industry  pembuat Merica oplosan merk "Dua Lombok" yang dicampur dengan Kerak nasi  di Jalan Ploso Timur Gang I-D nomor 14 Surabaya, dalam sehari pelaku bisa memproduksi merica bubuk oplosan sebanyak 30 kg. Jadi, rata-rata per bulannya produksi yang dilakukan bisa mencapai 2,5 ton. Untuk harga  Rp.15ribu perlusin.

Berikutknya Home industry Abon Sapi yang diproduksi di Jalan Sopoyono Wonocolo Surabaya tersebut berlabel sebagai abon sapi tetapi realitanya daging tersebut oplosan, Abon Sapi merk "Kelinci" yang diklaim daging sapi ternyata  merupakan daging sapi dimix daging ayam dengan  komposisi 60% daging ayam dan 40% daging sapi, juga disiapkan lahan untuk pembuangan tulang-tulang ayam 100 meter dari gudang tersebut.

Kapolda Jatim Irjen Pol Drs. Machfud Arifin  mengatakan, beberapa home industry  yang ditemukan Polrestabes Surabaya, " Dalam memasarkan produknya, pelaku tetap menjual sesuai harga di pasaran, ini untuk mengelabuhi para konsumen agar tidak curiga saat membeli produk tersebut"

Masih lanjut Irjen Pol Drs. Machfud Arifin, home industry atau produk lain seperti kopi, gula, kacang dan minyak goreng yang tidak mengantongi izin BPOM dan izin dari dinas terkait akan ditindak tegas, padahal izin dari BPOM dan dinas terkait mutlak harus dipenuhi dalam membuat sebuah home industry, " Pungkasnya. Rabu (17/05/2017)

Produk diedarkan dipasar pasar tradisional, terutama Pasar induk terbesar seperti Pasar Pabean, Pasar Soponyono, Pasar Wonokromo dan Pasar Keputran, kemudian menyebar kepasar kecil selanjutnya  disupply ke toko-toko  kelontong.

Dalam beberapa kasus tersebut, pengusaha nakal akan   dijerat Pasal 142 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Pangan serta  Pasal 62 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Jelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, Kepolisian antisipasi dengan sidak dilapangan akan perkembangan produk ilegal maupun oplosan dan menghimbau kepada masyarakat agar tetap waspada akan kesehatan yang berpengaruh terhadap generasi bangsa. (rif)

Posting Komentar