Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Foto : Pelaku dihadapan petugas menujukan semua beras hasil oplosan dan alatnya (Nur Chambali, memo)

Sidoarjo-Memo. Pabrik penggilingan Padi UD HS Jaya di Dusun Lumbang, Desa Sawocangkring Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo digerebek Unit Reskrim Polresta Sidoarjo pada hari Jumat (26/5/2017).

Satuan Reskrim, Polresta Sidoarjo. Dalam penggrebekan itu mengamankan tersangka Irfan Alkharim (41th) beserta sejumlah barang buktinya. Tersangka kedapatan menimbun beras bersubsidi untuk dioplos dan mengganti kemasan beras ternama untuk keuntungan yang lebih besar, dengan cara memperjual belikan beras miskin (Raskin).

Namun demikian, dalam penggerebekan tersebut sejumlah barang bukti yang diamankan diantaranya 86 karung beras rasta merek Bulog masing-masing berisi 15 kilogram, 700 karung kosong rastra merek Bulog, 1 mesin penggilingan padi, 1 mesin poles, 90 karung beras merek Bulog yang sudah dipoles dan diganti merek lain. Diantaranya Raja Lele, Raja Bandeng, Pad Beruang, Bintang Timur, Lopo Ijo, Nasi Uduk, Gurami, Pesona Laut, Lumba-Lumba, Raja Tawon, Laron, Dua Madu, Gunung Gede dan Tiga Anak Pintar.

"Karena beras rastra yang dipoles ulang keuntungannya bisa mencapai Rp 200.000 per kuintal. Pasaran-nya dikirim ke pasar Sepanjang, Krian dan sejumlah pasar di Surabaya," ungkap, Kasat Reskrim, Polresta Sidoarjo, Kompol M Harris, Jumat (26/05/2017).

Selain itu, Harris mengungkapkan tersangka bekerja dibantu 2 pekerjanya. Usaha itu dijalani sejak 3 tahun terakhir.

"Ini jelas merugikan konsumen. Karena beras miskin dipoles menjadi seoala-ola beras kualitas bagus dan dijual lebih mahal," tegasnya.

Tersangka bakal dijerat pasal 170 jo pasal 29 UU No 07 Tahun 2014 tentang Perdagangan, pasal 8 UU RI No 08 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pasal 2 UU No 31 Tahun 1999 tentang Tipikor jika ditemukan ada PNS yang terlibat.

"Kalau mencurigakan tersangka ditahan. Kalau kooperatif ya tidak ditahan, kan penahanan tidak harus," ucap, mantan Kapolsek Simokerto ini.

Sementara tersangka, Irfan Alkharim berdalih, terpaksa memoles beras rastra. Hal itu lantaran berasnya jelek dan warga miskin penerima rastra tidak mau mengkonsumsinya.

"Per 15 kilogram saya beli Rp 70.000 kalau sudah dipoles dan dikemas saya jual Rp 105.000 per 15 kilogram itu," dalihnya.

Lebih lanjut, ditempat yang berbeda di pergudangan Bulog Surabaya Utara di Kecamatan Buduran Sidoarjo. Wakil Kepala Sub Drivre Bulog Surabaya Utara, Irlia Dwi Putri saat mau dikonfirmasi terkait adanya beras Rastra bersubsidi oplosan tersebut ternyata tidak bisa ditemui. 

"mohon maaf ibu Waka (Irlia,red) masih sibuk."tutur, bagian Tata Usaha (TU) singkat. (Nh/rif)

Posting Komentar