Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Foto : Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga dan tersangka 

Sidoarjo,Memo
Klinik Herbal Mata Rajdu Sing Pengobatan Tradisional digerebek Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Polrestabes Surabaya. Pasalnya, Klinik Herbal ini sudah banyak menelan korban hingga meresahkan masyarakat.

Bedjo hanya bisa berbaring lemah di ruang Rawat Inap Darurat Rumah Sakit Umum sidoarjo (RSUD) Tatapanya kosong. Ia tak kuasa bicara. di pembaringan tempat itu, bedjo pun harus tidur dengan kondisi lemah.

Warga Desa Tambakrejo RT 01 RW 08 Waru Sidoarjo, ini melalui anaknya Fajar Agus menceritakan, penderitaan bapaknya berawal dari setelah berobat di pengobatan tradisional Klinik Herbal Mata Rajdu Sing di jalan Raya Semampir No.26 Surabaya. 

Namun, setelah menebus obat dari Klinik tersebut dan mengomsusinya malah menjadi sumber malapetaka. Seluruh badannya kejang-kejang dan muntah darah melebihi batas seperti habis minum anggur cap orangtua, Dari mulutnya pun kini, mengeluarkan darah tak berhenti menetes.

"Bapak saya setelah minum obat, malah seluruh badanya kejang dan muntah darah."terangnya, pada koran memo.

Sementara Kasat Reskrim Pokrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga memaparkan pasca penggerebekan Klinik Herbal Mata Rajdu Sing menyampaikan, "hari Kamis kami menerima laporan bahwa ada pasien yang muntah darah setelah mengkonsumsi obat-obatan dari klinik ini," terangnya, pada media.


Pemilik Klinik Herbal India itu membuka praktik tanpa izin. Tak hanya itu, pria asal Medan itu juga mencelakakan pasiennya. Klinik tersebut membuka jasa penyembuhan mata dan telinga tanpa operasi. Pasca berobat, biasanya pasiennya diberi obat tetes maupun kapsul.

Salah seorang pasien yang datang ke klinik itu dibawa ke RSUD Sidoarjo. Dia dirawat intensif selama empat hari. Polisi lantas menindaklanjuti laporan korban.

Sabtu siang, korps berseragam cokelat itu mendatangi dan menyegel klinik yang terletak di Jalan Raya Semampir no. 64. Mereka juga mengamankan obat-obatan yang selama ini diberikan kepada pasien. 

"Obat-obatan ini dibuat secara home industry. Tempat praktik ini merupakan rumah kontrak," tambah Shinto.

Polisi juga bekerja sama dengan Dinkes Kota Surabaya. Mereka memasang police line dan meminta keterangan Raju. Untuk sementara, Raju dikenai wajib lapor dua kali seminggu, setiap Senin dan Kamis. "Kami masih menunggu hasil rekam medis korban sambil mendalami pemeriksaan," ujar alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1999 itu.

Raju sendiri mengaku bahwa dirinya tidak tahu bahwa ada pasiennya yang sampai masuk rumah sakit. Selama ini, dia tidak menerima komplain. Dia sendiri meracik obat karena kemampuan turun menurun dari orang tuanya.

Pria yang membuka klinik kesehatan di Surabaya selama tujuh tahun itu mengatakan bahwa dirinya memang belum mengurus izin buka praktik. "Selama ini memang tidak ada operasi. Pasien bayar secara sukarela, biasanya antara Rp 1-2 juta," beber Raju.

Dari enam orang saudaranya, Raju merupakan salah seorang yang meneruskan usaha orang tuanya. "Ini saya ambil bahan-bahannya dari Sulawesi," ungkapnya.

Untuk penggunaan obat sendiri, bergantung pada penyakit yang diderita korban. Dia mengatakan bahwa onat yang diraciknya mampu menyembuhkan penyakit katarak. 

Klinik Raju Singh Di Duga Melakukan Tindak Pidana Penipuan Dan Penggelapan,Menyebabkan Orang Lain Luka-Luka ,Pasal 378/372/360 KUHP. (Ss/rif)

Posting Komentar