Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement



Foto : Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Muchammad Harris menggelar barang bukti garam (Slamet,memo)

Sidoarjo-Memo. Satreskrim Polresta Sidoarjo menggerebek empat rumah home industri garam tak berijin di Desa Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Kamis (18/05). Hasilnya, empat tersangka berhasil diamankan.

Empat tersangka itu yakni, Imam dan Subagiyo warga Dusun Ngemplak, Desa Wonokasian, Moch Khamdan dan Siti Khoirotin warga Dusun Kasian, Desa Wonokasian, kabupaten Sidoarjo.

Produksi garam tersebut diduga melakukan produksi pangan olahan untuk diperdagangkan namun tidak Menerapkan cara pengolahan pangan dengan benar sesuai aturan dan tidak memiliki ijin edar terhadap pangan olahan yang diperdagangkan nya 

Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo, Kompol Muhammad Harris mengatakan, penggerebekan empat home industri garam tersebut berawal dari laporan masyarakat bahwa, di Desa Wonokasian banyak home industri garam yang tidak memiliki ijin edar dan tidak sesuai  SNI.

"Setelah kami tindak lanjuti laporan tersebut, ternyata benar terdapat empat home industri yang tidak memiliki ijin serta tidak bersertifikat SNI bahkan memiliki kadar yodium yang kurang atau diragukan diragukan," ucap Harris, Jum'at (19/05/2017) saat prees relese.‎
Ia menambahkan, dari keempat home industri tersebut, para pemilik menjalankan usahanya sudah bertahun-tahun. Hasil produksinya, dipasarkan  diberbagai kota di Jawa Timur. Seperti, Mojokerto,Jombang,Probolinggo, Jombang, Trenggalek, Nganjuk ,Madiun dan Kota lainnya."Ada yang sudah dua tahun, tiga tahun dan empat tahun," tambahnya.

Keempat pelaku usaha tersebut mendapat omset yang berbeda-beda pertahun nya, untuk Subagiyo beromset sekitar Rp.1.080.000.000 per tahun, Imam Rp.680.400.000 per tahun, moch Khamdan Rp.1.680.000.000 per tahun dan untuk Siti Khoirotin Rp.30.240.000 per tahun‎
Sementara ,barang bukti yang ikut diamankan berupa empat set mesin selep garam, 8 cetakan garam, empat buah timbangan, 12 oven, puluhan ton garam siap edar dan barang bukti lainnya.‎

"Tersangka dijerat dengan pasal 134 dan 142 tentang pangan serta pasal 113 dan 120 tentang perdagangan dan perindustrian dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara atau denda paling banyak 3 Milyard " pungkasnya.

(Ss/rif)‎

Posting Komentar