Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Foto : Ruwatan Desa Wage diwarnai dengan Campur Sari ( andri, memo)

Sidoarjo, Memo
Warga Desa Wage, Kecamatan Taman , Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (13/5/2017), menggelar Ruwatan sedekah bumi dan doa meminta keselamatan dan kerukunan yang gotong royong 

Tahun ini, ritual sedekah bumi dimulai dengan pembuatan Tumpeng untuk setiap Rukun tetangga ataupun per rumah secara suka rela yang dikumpulkan di Makam leluhur "Makam mbah Ratu Ayu" sesepuh yang menebang Hutan pada jaman dulukala hingga menjadikan Desa Wage.

Warga Desa Wage dalam tradisi ini membuat tumpeng yang terbuat dari hasil bumi, terdiri dari berbagai makanan, buah-buahan, sayuran, serta umbi-umbian. Selain itu, masih ada tumpeng-tumpeng lain berisi nasi, lauk ayam bakar atau telur dadar, dan buah-buahan. 

Ruwatan digelar dimakam Mbah Ratu Ayu, dengan membawa beraneka ragam hasil bumi yang sudah dimasak diberupa tumpengan itu di makan bersama oleh seluruh warga. Acara Ruwat Desa ini bukan hanya dihadiri warga setempat, namun warga desa lainya dari desa tetangga bahkan ada yang dari luar daerah. Warga yang mendapat bagian isi dari tumpeng milik tetangga akan membawanya pulang dengan keyakinan rezekinya akan semakin mengalir.
Sejak jam 16:00 atau jam empat Sore persembahan Tumpeng dan makanan serta buah-buahan dari warga sudah mulai berdatangan di lokasi Makam Mbah Ratu Ayu. 

Tegal desa itu dimaksudkan untuk menghormati leluhur yang membuka hutan di kawasan Wage menjadi sebuah desa, yakni Mbah Ratu Ayu . Atas jasa nya, terbukalah kawasan pertanian dan perkampungan  yang hingga kini dirasakan sampai menjadi kota pinggiran perbatasan Sidoarjo dengan Surabaya.‎

Selain untuk menjaga silhturrahmi kebersamaan Gotong royong Sedekah bumi di Wage mempunyai tiga fungsi, yakni tegal desa yang ditujukan kepada leluhur yang memberi peninggalan desa berupa lahan pertanian , ruwah desa untuk mengingat dan mendoakan arwah leluhur, dan mendo'akan agar warga Wage selalu diberi kesejahteraan dan dlindungi Alloh swt."acara tumpengan seperti ini tujuan nya untuk menjaga silahturrahim dan menjaga gotong-royong sesama warga "kata kades Wage ‎

Setelah semua Tumpeng dan makanan dari warga terkumpul setelah sholat isya' semua warga berkumpul loakasi untuk ikut berdo'a bersama dan kemudian ratusan tumpeng di makan bareng-bareng. Terlihat antusias warga mulai dari anak-anak sampai orang tua menkmati nya ‎

Setelah prosesi Tegal desa dan sedekah Bumi beserta cerita sejarah mengenai leluhur dan tentang sedekah bumi yang disampaikan sesepuh desa dan kepala desa,  acara dilanjutkan dengan Hiburan Wayang kulit plus Campur sari dari RRI surabaya . Pada prosesi ini ada dua penari remo laki-laki dan perempuan yang diiringi gamelan serta kidungan. Dalam acara ini ada warga sangat antusias melihat pertunjukkan dan suasana Guyub warga wage begitu terasa‎

Dalam acara ini para panitia terlihat unik dengan memakai Baju adat Jawa. ‎‎

Kades wage menambahkan "Dalam tradisi ini, yang paling penting ungkapan rasa syukur atas rezeki dan hasil bumi yang diterima petani. Tradisi seperti ini sudah turun temurun merupakan upaya melestarikan budaya warisan leluhur yang sudah berlangsung sejak dulu, dan untuk menjaga silahturahmi sesama warga wage agar selalu tetap Guyub gotong-royong ," ucapnya. (Nh/adr/rif)



Foto : Ruwatan Desa Wage diwarnai dengan Campur Sari ( andri, memo)

Sidoarjo, Memo
Warga Desa Wage, Kecamatan Taman , Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (13/5/2017), menggelar Ruwatan sedekah bumi dan doa meminta keselamatan dan kerukunan yang gotong royong 

Tahun ini, ritual sedekah bumi dimulai dengan pembuatan Tumpeng untuk setiap Rukun tetangga ataupun per rumah secara suka rela yang dikumpulkan di Makam leluhur "Makam mbah Ratu Ayu" sesepuh yang menebang Hutan pada jaman dulukala hingga menjadikan Desa Wage.

Warga Desa Wage dalam tradisi ini membuat tumpeng yang terbuat dari hasil bumi, terdiri dari berbagai makanan, buah-buahan, sayuran, serta umbi-umbian. Selain itu, masih ada tumpeng-tumpeng lain berisi nasi, lauk ayam bakar atau telur dadar, dan buah-buahan. 

Ruwatan digelar dimakam Mbah Ratu Ayu, dengan membawa beraneka ragam hasil bumi yang sudah dimasak diberupa tumpengan itu di makan bersama oleh seluruh warga. Acara Ruwat Desa ini bukan hanya dihadiri warga setempat, namun warga desa lainya dari desa tetangga bahkan ada yang dari luar daerah. Warga yang mendapat bagian isi dari tumpeng milik tetangga akan membawanya pulang dengan keyakinan rezekinya akan semakin mengalir.
Sejak jam 16:00 atau jam empat Sore persembahan Tumpeng dan makanan serta buah-buahan dari warga sudah mulai berdatangan di lokasi Makam Mbah Ratu Ayu. 

Tegal desa itu dimaksudkan untuk menghormati leluhur yang membuka hutan di kawasan Wage menjadi sebuah desa, yakni Mbah Ratu Ayu . Atas jasa nya, terbukalah kawasan pertanian dan perkampungan  yang hingga kini dirasakan sampai menjadi kota pinggiran perbatasan Sidoarjo dengan Surabaya.‎

Selain untuk menjaga silhturrahmi kebersamaan Gotong royong Sedekah bumi di Wage mempunyai tiga fungsi, yakni tegal desa yang ditujukan kepada leluhur yang memberi peninggalan desa berupa lahan pertanian , ruwah desa untuk mengingat dan mendoakan arwah leluhur, dan mendo'akan agar warga Wage selalu diberi kesejahteraan dan dlindungi Alloh swt."acara tumpengan seperti ini tujuan nya untuk menjaga silahturrahim dan menjaga gotong-royong sesama warga "kata kades Wage ‎

Setelah semua Tumpeng dan makanan dari warga terkumpul setelah sholat isya' semua warga berkumpul loakasi untuk ikut berdo'a bersama dan kemudian ratusan tumpeng di makan bareng-bareng. Terlihat antusias warga mulai dari anak-anak sampai orang tua menkmati nya ‎

Setelah prosesi Tegal desa dan sedekah Bumi beserta cerita sejarah mengenai leluhur dan tentang sedekah bumi yang disampaikan sesepuh desa dan kepala desa,  acara dilanjutkan dengan Hiburan Wayang kulit plus Campur sari dari RRI surabaya . Pada prosesi ini ada dua penari remo laki-laki dan perempuan yang diiringi gamelan serta kidungan. Dalam acara ini ada warga sangat antusias melihat pertunjukkan dan suasana Guyub warga wage begitu terasa‎

Dalam acara ini para panitia terlihat unik dengan memakai Baju adat Jawa. ‎‎

Kades wage menambahkan "Dalam tradisi ini, yang paling penting ungkapan rasa syukur atas rezeki dan hasil bumi yang diterima petani. Tradisi seperti ini sudah turun temurun merupakan upaya melestarikan budaya warisan leluhur yang sudah berlangsung sejak dulu, dan untuk menjaga silahturahmi sesama warga wage agar selalu tetap Guyub gotong-royong ," ucapnya. (Nh/adr/rif)


Posting Komentar