Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement



Foto : tersangka diapit petugas (Slamet, memo)

Sidoarjo-Memo. Berdalih untuk keperluan selamatan istri yang sedang hamil, pria penggaguran Andika (21), warga Desa Mliriprowo, kecamatan Tarik, nekat memcetak uang palsu. Pelaku hanya bisa merunduk malu dan meratapi penyesalannya saat digelandang oleh petugas atas tuduhan sebagai pelaku pengedar uang palsu (upal). Atas perbuatannya, ia terpaksa meninggalkan istrinya yang baru hamil lima bulan untuk menjadi penghuni di balik jeruji besi Polsek Krian.

Aksi nekat tersangka berawal dari kebingungannya mencari uang untuk acara selamatan istri yang mengandung lima bulan. Sedangkan Andika sendiri selama ini tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia bekerja serabutan. Entah kenapa akhir pekan lalu di benaknya tiba-tiba terlintas ide membuat upal. 

Andika kemudian mencari referensi di internet. Dia tidak kesulitan berselancar di dunia maya, karena latar belakangnya yang pernah mengenyam pendidikan komputer. Untuk melancarkan aksinya dia men-scan uang asli pecahan Rp 100 ribu. Hasil scan lantas dicetak dengan kertas biasa dan digandakan. Memang hasilnya tidak terlalu berkualitas. Namun, tetap saja ada sejumlah orang yang tertipu dengan uang palsu itu.

Kapolsek Krian Kompol Widjanarko mengatakan, pelaku awalnya menukarkan upal pecahan Rp 100 ribu buatannya ke pedagang di sekitar Stasiun Krian. Dia berpura-pura membutuhkan pecahan Rp 50 ribu. Beberapa orang menjadi korbannya.

"Modus dari pelaku adalah menukarkan uang palsu dengan uang asli," tutur Kompol Widjanarko, Kamis, (18/5).

Dikatakan pula, tersangka selalu beraksi ketika hari sudah beranjak malam. Sebab, kondisinya mendukung karena korban kurang fokus untuk memeriksa keaslian uang. Kejadian itu lantas menyebar dari mulut ke mulut. Beberapa pedagang yang menjadi korban melapor ke polisi.

"Atas laporan itu, langsung kita kerahkan beberapa anggota untuk menyelidiki perkara itu," terang dia.

Selang sehari sebelumnya, polisi mendapat kabar keberadaan pemuda yang mirip dengan ciri-ciri pelaku. Informasi tersebut ternyata tepat. Saat melakukan penggeledahan, petugas menemukan delapan buah upal pecahan Rp 100 ribu di dalam dompet Andika. Selanjutnya, dia digelandang polisi ke tempat tinggalnya untuk mencari barang bukti lain.

"Di rumahnya kami kembali menemukan uang palsu pecahan Rp 100 ribu yang belum digunting. Jumlahnya 20 lembar," jelasnya.

Mantan Kasubbaghumas Polrestabes Surabaya tersebut memaparkan, upal yang dibuat pelaku sebenarnya bisa dibedakan dengan uang asli jika diteliti. Dari kualitas saja sudah tidak sama karena upal menggunakan kertas biasa. Lalu, nomer serinya yang sama semua karena memang hasil dari scan satu pecahan uang asli.

Widjanarko mengatakan, peralatan yang digunakan untuk membuat upal masih sederhana. Andika membuat upal menggunakan mesin scan di warnet dekat rumah. "Dia baru belajar, kalau tidak segera tertangkap bisa jadi hasilnya akan jauh lebih baik karena kualitasnya terus diperbaiki. Meresahkan masyarakat apalagi menjelang Ramadan dan lebaran," tandasnya.

Kini atas perbuatanya tersangka bakal yerancam pasal 244 Jo 245 KUHP tahun 2011 dengan ancaman kurungan penajara maksimum lima belas tahun penjara. (ss/rif)


Posting Komentar