Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement


Sidoarjo-Memo. Dugaan korupsi di tubuh PDAM Delta Tirta Sidoarjo tak hanya disidik oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo saja. Saat ini tim Unit Tipikor SatReskrim Polresta Sidoarjo juga melakukan Penyelidikan terhadap keberadaan Instalasi Pengolahan Air (IPA) satu dan dua yang berada di Kecamatan Krian, yang diduga ada markup harga pembelian mesin IPA tersebut.

Bahkan Unit Tipikor Polresta Sidoarjo saat ini sudah menaikkan status dari Penyelidikan (lid) menjadi Penyidikan (dik) dan sudah memeriksa saksi-saksi dari pejabat di perusahaan plat merah milik Pemerintah Kabupaten Sidoarjo itu seperti Pejabat Sementara (PJ) Direktur Utama Basid lao dan sejumlah Kepala Bagian (Kabag) PDAM Delta Tirta Sidoarjo.

"Kami sudah periksa saksi-saksi mulai pejabat PDAM yang berwenang saat itu dan pihak pemenang tender sudah kami mintai keterangan. Untuk Calon tersangka belum bisa kami ungkapkan sekarang, nanti jika penyidikan kami sudah rampung pasti akan kami ekspose tersangkanya ke rekan media," ujar Kompol Manang Soebeti kepada koranmemo, selasa (4/4/2017).

Lebih jauh, Mantan Kapolsek Sawahan Surabaya ini memaparkan jika saat ini pihaknya akan meminta bantuan saksi ahli untuk memperkuat hasil penyidikan serta penyidik juga akan melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menghitung kerugian negara.

"Kasus ini kami harus benar benar teliti dan kami tidak mau gegabah, jika semua rangkaian penyidikan selesai maka secepatnya berkas kasus ini akan kami limpahkan ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo agar segera di sidangkan. Saat ini kami belum bisa menghitung kerugian negaranya dari proyek belasan miliar ini," paparnya.

Sementara itu tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus), Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo saat ini sudah  menetapkan 2 orang pejabat di lingkungan PDAM Delta Tirta Sidoarjo sebagai tersangka baru dalam proyek sambungan air senilai Rp 17 miliar alokasi anggaran pada Tahun 2015.

Kedua tersangka dalam kasus dugaan korupsi belum terbayarnya proyek sambungan senilai Rp 17 miliar itu adalah Mantan Dirut PDAM Delta Tirta Sidoarjo, Sugeng Mujiadi yang saat ini mendekam di Lapas Medaeng atas kasus korupsi pipanisasi 10.000 sambungan rumah (SR) senilai 8,9 miliar. Selain itu, tersangka keduanya yakni Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek sambungan dan pengadaan tersebut atas nama Edi Budianto.

"Paska kami naikkan ke dik (penyidikan) dari lid (penyelidikan), kami sudah tetapkan dua orang tersangka atas kasus dugaan korupsi proyek seniliai Rp 17 miliar itu," ungkap Kepala Kejari Sidoarjo, M Sunarto.

Lebih jauh, mantan Aspidsus Kejati Gorontalo ini menjelaskan dalam perkara dugaan korupsi proyek belasan miliar yang dibagi untuk sekitar 34 rekanan itu, bukan hanya pekerjaannnya yang belum dibayar. Akan tetapi, rata-rata proyek sambungan senilai Rp 200 juta sampai Rp 365 juta itu diduga tidak dilengkapi dengan kontrak kerja. Oleh karenanya, proyek pekerjaan puluhan paket itu tidak ada dasar dan spesifikasi pekerjaannya.

Bahkan berdasarkan hasil penyelidikan dilapangan, proyek tersebut diduga dikuasi satu rekanan besar yang biasanya bekerjasama dengan PDAM. Hanya saja, dalam praktiknya menggunakan CV, PT atau nama rekanan yang berbeda-beda. 

"Penyidik Pidsus sudah turun lapangan dan lakukan kroscek ke alamat satu per satu rekanan tersebut, tapi kebanyakan alamat yang dituju fiktif dan kosongbaik yang beralamat di Surabaya maupun di Sidoarjo," kata salah satu tim penyidik Pidsus Kejari Sidoarjo yang tidak mau disebutkan namanya.

Saat ditanya mengenai dua tersangka itu, Sunarto yang juga mantan Kajari Jombang ini mengatakan jika kedua tersangka belum dilakukan penahanan, hal ini dikarenakan tersangka Sugeng Mujiadi masih menjadi terdakwa kasus dugaan korupsi lelang pengadaan pipanisasi Rp 8,9 miliar Tahun 2015 yang diputus 4 tahun penjara yang saat ini masih dalam proses tingkatan banding. Sedangkan untuk tersangka Edi yang saat ini masih menjabat di PDAM Delta Tirta Sidoarjo juga tidak ditahan karena masalah kesehatan yang bersangkutanakan.

"Memang saat ini kami belum ada yang ditahan oleh penyidik. Wartawan tunggu saja perkembangannya," pungkasnya. (ss/rif)

Posting Komentar