Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement



Jakarta-Memo. Dalam mewujudkan institusi yang bersih profesional Irjen Pol. Arief Sulistyanto resmi menjabat sebagai asisten SDM Polri. Mantan Kapolda Kalimantan Barat itu, kini punya amanah baru sebagai ujung tombak dari program reformasi Polri yang merupakan program inti Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Ada tiga hal yang menjadi sasaran reformasi, yaitu reformasi struktural, reformasi instrumental, dan reformasi kultural.

Menurut Irjen Arief, reformasi kultural punya tantangan yang paling besar karena melibatkan sumber daya manusia (SDM) sebagai objek reformasi.

"Reformasi kultural yang direformasi adalah manusianya dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Kultur dari kebiasaan-kebiasaan yang mendapat penilaian negatif dari masyarakat diubah, dan ini butuh waktu,"tutur, Irjen Arief dalam wawancara khusus di Gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (24/03/2017).

Bersumber dari berbagai data, Polri pernah menjadi institusi negara yang paling korup di Indonesia. Salah satu penyebab citra buruk itu adalah soal uang 'pelicin' dalam perekrutan anggota baru.

Untuk itulah, menurut Irjen Arief, keberhasilan reformasi SDM Polri ditentukan oleh keberhasilan mereformasi proses rekrutmen anggota.

"Anggota polisi baru harus dipilih dari calon-calon yang berkualitas, memenuhi standar dan prinsip yang sudah ditentukan kepolisian yaitu bersih, transparan, akuntable , humanis, dan berkualitas," terang, As SDM Polri .

Animo tinggi masyarakat untuk menjadi anggota kepolisian, kata Irjen Arief, berdampak pada atmosfer kompetisi yang sangat ketat dalam proses perekrutan. Sehingga tak heran jika banyak orang melakukan berbagai cara yang tidak dibenarkan agar lolos seleksi.

"Misal ada seseorang yang mendatangi calon bilang saya bisa nolong kamu dengan sejumlah uang. Padahal panitia seleksi tidak akan melakukan itu. Uang masuk di kantong, dia diam saja. Nanti kalau kebetulan masuk ya dia untung, kalau tidak ya dikembalikan. Nah ini yang merusak citra rekrutmen Polri," tegasnya.

Lebuh lanjut, Irjen Arief menambahkan, integritas dan kejujuran panitia seleksi adalah kunci untuk mengantisipasi hal itu. Tak hanya menandatangani pakta integritas, pihaknya juga menyumpah panitia seleksi sebelum melaksanakan tanggung jawabnya.

"Harus ada sesuatu yang menguatkan lagi, maka saya sumpah untuk menguatkan dia bahwa apa pun yg dilakukan terhadap para calon ini menjadi tanggung jawab dia kepada tuhan," paparnya.

Jika panitia seleksi sudah mau berpegang pada sumpahnya, masih kata Irjen Arief, maka hal itu akan berdampak positif pula pada objektifitas calon anggota.

"Tinggal pesertanya bisa dijamin dia akan melakukan prosesnya secara objektif tanpa melibatkan pihak lain, menggunakan sponsorship titip ke sana kemari. Jika melakukan tindakan menyimpang harus bersedia di coret," pungkasnya.

Lebih lanjut, panitia dan peserta telah sepakat untuk menjunjung tinggi kejujuran dalam rekrutmen, maka proses pendidikan juga akan berlangsung profesional.

"Yang masuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, maka keluarnya akan jadi polisi-polisi yang baik juga, tinggal bagaimana pola pembinaan karir mereka, harus ditempatkan di tempat yang sesuai kemampuan mereka," imbuh, Irjen Arief.

Jika sejumlah upaya tersebut sudah dilakukan namun justru pihak yang berlaku curang dalam perekrutan adalah oknum kepolisian?

"Tangkap ramai-ramai, bisa dilaporkan ke saya lewat SMS atau dijebak saja untuk ditangkap," tegas, Irjen Arief.

Di balik sosok Irjen Arief yang selalu berupaya mengedepankan kejujuran dalam menjalankan tugasnya, sosok sang istri yaitu dr Niken Manohara punya peranan penting.

"Kalau berkaitan dengan jabatan suami, posisi saya mengikuti jalan yang lurus saja, berusaha jangan sampai tergoda. Godaan itu banyak apalagi ini terkait wewenang," ujarnya, di lokasi yang sama.

"Kadang orang yang mencoba suaminya enggak bisa, coba lewat istrinya. Ini peran istri yang coba bertahan bahkan mengingatkan suami ingat jangan sampai tergoda, suami istri adalah tim," tandasnya, sambil menutup bincangnya dengan tim khusus memojatim. (ded/rif)

Posting Komentar