Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Foto : Bupati Klaten Sri Hartini dan Laode M Syarif (inzet)

Jakarta-Memo. Komisi Pemberantasan Korupsi Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Klaten, Sri Hartini bersama 7 orang lainnya di Klaten Jawa Tengah, pada hari Jumat (30/12) kemarin. Bupati Klaten Sri Hartini tak bisa mengelak lagi saat petugas KPK tiba-tiba mendatangi rumah dinasnya, yang sebelumnya KPK telah mengamankan Sukarno dari tempat tinggalnya dan ditemukan sejumlah uang sekitar Rp.80 juta.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif memaparkan, penangkapan atas 8 orang yang diamankan dalam OTT tersebut yakni, SHT (Sri Hartini)Bupati Klaten, Empat orang Pegawai Negeri Sipil (PNS)yakni SUL (Suramlan), NP (Nina Puspitarini), BT (Bambang Teguh), dan SLT (Slamet), kemudian PW (Panca Wardhana) selaku pegawai honorer, serta SKN (Sukarno) dan SNS (Sunarso) dari swasta.

"Dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Klaten dan kawan-kawan, KPK mengamankan 8 orang pada Jumat, 30 Desember 2016 sekitar pukul 10.30 WIB di Klaten, Jawa Tengah." terang, mantan Dosen Fakultas Hukum di Universitas Hasanudin Makasar ini, saat konferensi pers di Gedung KPK Jakarta, Sabtu (31/12).

Setelah mengamankan Sukarno dirumahnya  penyidik KPK lantas menggerebek rumah dinas Bupati Klaten.

"sekitar pukul 10.45 WIB, penyidik bergerak menuju rumah dinas Bupati Klaten dan mengamankan 7 orang yaitu SHT, SUL, NP, BT, SLT, PW, SNS dari rumah dinas, Petugas juga mengamankan uang sekitar Rp2 miliar, dalam pecahan rupiah dan valuta asing sejumlah 5.700 dolar AS dan 2.035 dolar Singapura," terang, pria kelahiran Lemoambo Sulawesi Tenggara ini.

Dalam penggerebekan dirumah Dinas Bupati Klaten, penyidik juga mengamankan buku catatan yang berisi catatan penerimaan uang dari tangan Nina Puspitarini.

"Dan dalam penelusuran diperoleh istilah ada kode uang itu adalah uang syukuran, terkait indikasi pemberian suap untuk mendapatkan posisi-posisi tertentu di Kabupaten Klaten," ungkap, Laode M. Syarif.

"Pemberian ini berhubungan dengan promosi dan mutasi jabatan terkait pengisian organisasi dan tata kerja organisasi perangkat darah yang diamanatkan PP 18/2016 tentang Perangkat Daerah," imbuhnya.

Selain ke-8 orang tersebut, KPK juga sempat mengamankan Andy Purnomo, anak laki-laki Sri Hartini yang juga anggota DPRD Klaten. "Memang mengamankan putra Bupati tapi keterlibatan beliau belum bisa diungkap saat ini dan harus diteliti lebih lanjut oleh penyidik," ungkap Laode M. Syarif.

Sementara info yang berhasil dihimpun diduga, tersangka pemberi suap adalah Kepala Seksi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Dinas Pendidikan Klaten, Suramlan, dengan sangkaan Pasal 5 Ayat 1 huruf a dan atau Pasal 13 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan Sri Hartini diduga menerima uang suap dan terancam dijerat dengan Pasal 12 huruf a dan atau Pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 65 Ayat 1 KUHP. Usai penangkapan ini, Sri Hartati langsung dipecat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). (Hum/rif)

Posting Komentar