Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Sidoarjo-Memo. Kendati pengusutan terkait perkara kasus dugaan penyimpangan dana alokasi khusus (DAK) APBN 2015 pada Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan (DP3) Sidoarjo belum menemukan titik terang. Namun, Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo masih terus berupaya mengumpulkan alat bukti yang bisa menguatkan dugaan penyelewengan anggaran tersebut.

Termasuk berbagai keterangan saksi yang sudah dipanggil , semuanya telah dikumpulkan. Selain itu, tim penyidik juga memeriksa pekerjaan proyek fisik yang telah dijalankan para rekanan. Hasilnya, sebagian fisik yang dikerjakan mengalami kerusakan, meski sebagian fisik yang rusak sudah diperbaiki mereka.

Kasipidsus Kejari Sidoarjo Adi Harsanto tidak menampik kondisi itu. Dia menduga, kondisi itu disebabkan oleh dugaan kuat perbuatan melanggar hukum yang merugikan negara. Untuk itu, pihaknya tidak akan tinggal diam.

"Upaya kami adalah melakukan penyelidikan," ujarnya kemarin (23/10).

Menurut Adi, pihaknya akan serius untuk menuntaskan perkara tersebut. Sebagai buktinya, tim penyidik yang diturunkan adalah para jaksa yang mumpuni. Seperti Wido Utomo, misalnya. Dia adalah ketua tim penyidikan yang menangani dugaan korupsi PDAM Delta Tirta, pada beberapa pekan kemarin.

"Detail perkembangan penyelidikan belum bisa disampaikan," tuturnya.

Sebagaimana diberitakan, DP3 Sidoarjo mendapat sorotan dari tim pidana khusus (pidsus) Kejari Sidoarjo. Hal itu menyusul adanya dugaan tim penyidik terhadap penyelewengan wewenang penggunaan dana alokasi khusus (DAK) APBN 2015. Dengan jumlahnya yang disebut-sebut mencapai Rp 18 miliar.

Dana tersebut digunakan untuk pengadaan dan renovasi sejumlah proyek. Beberapa diantaranya adalah renovasi Jalan Usaha Tani (JUT) dan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT). Indikasi perbuatan melanggar hukum yang sedang diselidiki adalah adanya proses yang tidak benar yakni, pembagian proyek tanpa proses lelang atau penunjukan langsung.(kmd/rif)

Posting Komentar